Showing posts with label Cerita Umum. Show all posts
Showing posts with label Cerita Umum. Show all posts

Saturday, February 9, 2008

Sri, si janda kembang

Aku sebenarnya enggan memperkenalkan diri sebagai dokter, namun untuk kelengkapan cerita, aku terpaksa mengakui bahwa aku memang dokter.

Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.

Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.

Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.

Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.

Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.

"Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah", katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.
"Oh, enggak apa-apa kok Dik", sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.

Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.

Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.

Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah 'selesai' bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.

Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.

Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.

Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.

Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.

Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.

Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.

Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.

Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.

Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.

Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin membasah.

Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.

Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, "Sri, terima kasih, terima kasih.."

Terapi seks

<<-Prev | Next->>



Kata orang, akulah orang yang paling bahagia di dunia. Bayangkan tinggal di Surabaya yang disebut-sebut merupakan kota besar kedua di Indonesia dengan uang banyak, memiliki puluhan perusahaan dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, isteri cantik dan sexy, dan semua orang mengenalku dengan baik. Tapi dalam hati kecilku, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah menikah kurang lebih 3 tahun, kami belum dikaruniai anak. Memang kelemahannya ada pada diriku. Walaupun aku ganteng dan berbadan tinggi besar dan tegap, aku selalu mengalami kegagalan saat berhubungan intim dengan isteri. Ya, sekitar dua tahun sebelum kami menikah, aku mengalami kecelakaan lalu lintas. Motorku ditabrak dari belakang oleh sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dan berusaha mendahului motor yang kukendarai. Saat itu ternyata ada mobil yang muncul dari arah berlawanan, sehingga untuk menghindari "adu kambing" truk itu membanting stir ke kiri dan menabrak motorku. Aku terjungkal dan terbanting ke aspal di siang bolong. Untunglah aku tidak cedera. Hanya kedua tanganku sedikit tergores dan pantatku sakitnya bukan main. Rupanya aku jatuh terduduk di pinggir jalan aspal dekat trotoar jalan. Seorang bapak yang ikut menyaksikan kecelakaan itu segera memapahku berdiri dan membawaku ke rumah sakit terdekat. Sejak itu, jika aku berhubungan dengan Lilian, isteriku, aku selalu tidak dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Penisku tidak bisa berdiri. Kadang bisa berdiri tapi sebentar belum juga masuk dengan pas.. eh.. sudah menyemprotkan cairan mani.

Beberapa dokter telah kudatangi. Tapi kesembuhanku belum juga muncul. Tadinya muncul ide agar aku mencoba-coba untuk "jajan" di lokalisasi. "Ah.." pikirku lagi, "Nanti malah kena AIDS atau HIV. Lebih repot lagi kan?" Nah, suatu hari aku mendengar dari teman karibku, Hartono, bahwa di Jakarta katanya ada seorang dokter spesialis yang bisa menyembuhkan kelainan-kelainan seks dengan biaya terjangkau dan tanpa efek samping. Lalu dengan persetujuan isteriku, aku pun mengambil cuti selama seminggu untuk berangkat ke sana. Karena punya sanak famili yang tinggal di bagian barat Jakarta, aku pun tanpa kesulitan menemukan dokter yang kucari. Tempat prakteknya ternyata terletak di lantai 18 sebuah apartemen mewah di pusat kota. Aku tadinya merasa deg-degan dan agak malu untuk naik ke sana. Bagaimana kalau dokter itu menyarankan yang tidak-tidak kepadaku? Lalu.. apakah hasilnya akan maksimal seperti yang kuharapkan? Berbagai pertanyaan lain terus saja bergema dalam hati kecilku. Namun bila kuingat raut wajah Lilian yang cemberut dan penuh kekecewaan bila penisku tidak bisa tegang atau baru masuk ke permukaan vaginanya, aku sudah ejakulasi.. wah.. lebih baik aku mencoba saja ke sana deh, siapa tahu ada mujizat yang terjadi. Benar kan?

Saat aku sampai di ruangan kantor yang amat mewah itu, kulihat seorang gadis cantik yang masih berumur sekitar 22-23 tahun sedang menulis sesuatu dan kemudian memandangku dengan ramah.
"Mau ikut terapi, Pak?" ia bertanya dengan seulas senyum di bibirnya yang mungil.
"Ya, maaf.. Dokternya ada?" tanyaku ragu-ragu.
"Hari ini kebetulan Dokter Amy Yip sedang tidak ada pasien.." ujarnya.
"Dokter Amy Yip.. Kok kayak nama bintang film mandarin sih, Mbak.. apa ia berasal dari Hongkong?"
"Betul sekali.. Memang namanya Yip Chi Mei, ia seorang dokter spesialis terapi seksual asal Indonesia lulusan Hongkong Medical College.. dan ia lebih suka dipanggil dengan nama Dokter Amy Yip." katanya memberi penjelasan.

Setelah mengisi formulir yang berisi data-data pribadi, aku langsung diantar ke tempat prakter dokter itu. Gadis yang belakangan kuketahui bernama Sally itu kemudian mengetuk pintu ruang praktek Dokter Amy Yip. Pintu pun dibuka dari dalam. Benar saja dugaanku. Di sana berdiri seorang wanita cantik mengenakan blazer hitam dan berumur sekitar 30 tahun. Ia berambut ikal sebahu. Oh ternyata ini dokternya!

"Maaf Dok.. ini ada Bapak Kuntoro dari Surabaya ingin ikut terapi.. ini data-data lengkapnya." ujar Sally sambil memberikan formulir yang sudah kuisi dan mempersilakan aku masuk ke kantor itu. Sally pun berjalan kembali ke meja kerjanya di depan ruangan itu.
"Silakan masuk, Pak.." ujar dokter cantik itu.
"Baik, terima kasih." jawabku singkat.

Setelah kami duduk di dalam ruang praktek itu, Dokter Amy Yip kemudian mulai menanyakan beberapa hal yang amat pribadi padaku. Karena kupikir ia seorang dokter yang harus tahu benar keadaan dari kehidupan seks rumah tanggaku, aku pun membeberkan semuanya. Salah satu pertanyaannya adalah, "Kira-kira Bapak bisa tahan berapa lama dalam berhubungan intim dengan isteri?" atau, "Gaya apa yang paling Bapak sukai bila berhubungan dengan isteri?"

Mendengar semua jawabanku, ia pun mengangguk-angguk tanda mengerti. Lalu dengan sorot mata tajam ia memandangku serta berkata, "Pak Kuntoro, saya rasa sebaiknya kita bisa mengadakan terapi seks sekarang juga. Di sebelah sana ada ranjang yang bisa Bapak gunakan untuk itu.. Di sana saya akan menguji ketahanan Bapak untuk tidak berejakulasi selama beberapa menit.. kalo memungkinkan nanti kita bisa berhubungan badan guna proses penyembuhan lebih lanjut. Gimana Pak.. apa Bapak setuju?"
"Wah.. ini toh yang namanya terapi seks. Kalau begini sih pasti aku mau sekali," pikirku dalam hati.
Tanpa pikir panjang lagi aku menyahut, "Baiklah.. Terserah Dokter saja, gimana baiknya.."
Dalam pikiranku tiba-tiba muncul bayangan gimana kira-kira bentuk tubuh Dokter Amy Yip ini nanti kalau ia telanjang. Pikiran seperti ini langsung saja membuat penisku tiba-tiba menegang dan keras.

Kemudian kami berjalan menuju ranjang terapi yang dimaksud. Setelah aku duduk dengan bersandarkan bantal, dokter cantik itu duduk dengan santai di hadapanku. Ia kemudian dengan sengaja membuka semua baju luarnya. Akhirnya yang tertinggal hanya BH dan celana dalamnya. "Pak Kuntoro, silakan Bapak meraba-raba saya.. terserah Bapak mau meraba bagian tubuh saya yang mana.. nanti kita lihat berapa menit waktu yang Bapak perlukan untuk ejakulasi.." perintahnya. Tentu saja aku mau melakukannya dengan senang hati. Wong yang di depanku, tubuh dokter itu begitu mulus dan putih. Payudaranya saja begitu menonjol ke depan. Mungkin ukuran 38B, seperti hendak meloncat keluar dari penutupnya. Dengan pelan kuelus wajah dokter itu, lalu lehernya yang jenjang. Kemudian tangan kananku turun ke bukit kembarnya. Kuraba pelan dan kuremas-remas. Lalu tangan kiriku bergerak menuju CD-nya. Namun, sekonyong-konyong ada sesuatu yang mau meledak dalam tubuhku. Aku buru-buru menghentikan rabaan-rabaanku. Aku berusaha segera membuka celana panjang yang kukenakan. Namun terlambat sudah. Penis andalanku sudah menyemprot dengan derasnya. Aku hanya bisa mengepalkan tangan sambil menutup mata. "Sialan!" ujarku. Celana panjangku terutama di bagian pangkal paha tentu saja basah tidak karuan.

"Cuma dua menit kurang 25 detik.. saya rasa keadaan ini masih bisa disembuhkan, Pak.. Sebelumnya ada pasien saya yang lebih buruk keadaannya.. asal Bapak mau telaten berobat tiap hari ke sini.." Dokter Amy Yip menimpali setelah melihat arloji yang dikenakannya.

Hari itu terapi seks yang harus kujalani selesai sudah. Setelah mengenakan pakaiannya kembali dan kami kembali duduk di meja kerjanya, dokter itu lalu berkata, "Mohon diingat ya, Pak.. apa yang kita lakukan barusan hanyalah sebatas untuk terapi.. bukan untuk dilakukan di luar jam kerja saya.." Oh, aku mengerti maksudnya. Ia tidak mau kuajak kencan di luar praktek terapinya. Itu peraturannya. Ah tidak apa-apa bagiku. Toh aku orangnya setia pada isteriku. Walau Lilian lebih galak dari dokter ini, namun ia kan isteriku dan mantan pacarku. Iya kan?

Keesokan harinya, masih dengan terapi yang sama. Cuma Dokter Amy kini tidak mengenakan BH. Benar adanya, kedua bukit kembarnya itu begitu besar, kencang dan amat menantang. Putingnya berwarna merah kecoklatan seperti tegak siap untuk disedot. Ia berkata, "Silakan Bapak mau meremas atau mengulum atau menjilat payudara saya.. terserah.. saya hanya ingin tahu Bapak bisa tahan berapa lama untuk tidak ejakulasi." Tanpa menunggu perintah selanjutnya, aku langsung saja meraba dan meremas kedua bukit kembarnya. Kemudian kuarahkan mulutku untuk merasakan nikmatnya payudara itu. Aku menghisap, menjilat dan mengulum putingnya. Ia tampak merem-melek menikmatinya. Ternyata dua menit berlalu. Dan kembali aku mengalami ejakulasi. Spermaku tersemprot hebat. Untunglah kali ini aku masih sempat membuka reitsleting celanaku dan mengarahkan penisku yang sudah tegang dan membesar itu ke ember khusus untuk hasil sperma terapi. "Dua menit lebih 5 detik.. hari ini ada peningkatan, Pak.." jawabnya sambil menyunggingkan senyum setelah semuanya selesai. "Besok kita lanjutkan lagi. Jangan kuatir, Pak.. Perkiraan saya pada hari keempat nanti.. waktu Bapak untuk tahan tidak ejakulasi pasti lebih dari sepuluh menit. Saya jamin, Pak." Lalu hari itu kami pun berpisah. Aku pulang ke hotel tempatku menginap dengan berbagai pikiran tentang harapan kesembuhan selanjutnya yang akan kualami serta terapi apa yang akan dilakukannya besok terhadap diriku.

Hari ketiga..
Kali ini kami berdua benar-benar telanjang bulat. Dokter Amy kini yang mengambil inisiatif. Ia sengaja yang membuka pakaian yang kukenakan sampai aku benar-benar bugil. Lalu kemudian ia membuka pakaiannya sendiri. Saat ia melakukannya, matanya tak lepas dari memandang senjataku. Entah apa yang ada di benaknya. Yang pasti saat itu senjataku belum tegang bahkan hingga ia membuka CD-nya. Ketegangan dalam diriku mungkin sedikit banyak tidak membantu dalam merangsang penis yang kumiliki. Lalu ia duduk di pinggir ranjang. Kali ini dengan sengaja ia meraih senjataku lalu dikocok-kocoknya dengan pelan tapi pasti. Sementara tanganku diperbolehkan meraba apa saja yang ada di tubuhnya. Setelah kocokannya mulai menampakkan hasil, ia pun menunduk dan mengarahkan penisku ke mulutnya. Dengan telaten ia menjilat, menghisap dan mengulum penis ajaibku. Wah.. hampir saja aku ingin ejakulasi. Tapi aku berusaha untuk menahannya sebab aku ingin mengetahui rasanya bila ia terus mengobok-obok penisku.

Ia lalu menyuruhku untuk mengubah posisi. Kini aku disuruhnya untuk menghisap klitorisnya, sedangkan ia dengan penuh semangat terus menghisap dan menjilat-jilat penisku. Karena tidak tahan menghadapi kuluman dan hisapan mulutnya, aku terpaksa harus melepaskan sesuatu yang seperti akan meledak dalam diriku. Dan benar.. "Crot.. crot.. crot.. crot.." Dengan derasnya maniku tertumpah di dalam mulut dokter itu. Entah sengaja atau tidak, Dokter Amy Yip tidak mau melepaskan penisku dari mulutnya. Wah..! Setelah semprotan maniku habis, dan penisku dibersihkan dengan tisu di tepi ranjang, kembali ia memberikan evaluasi terapi yang kujalani. "Lumayan.." katanya sambil melirik jam tangan. "Sepuluh menit lebih dua detik.. Bapak pasti akan sembuh.. Saya rasa pada terapi kita yang terakhir akan benar-benar terbukti bahwa kondisi ketahanan penis Bapak untuk tidak terlalu cepat berejakulasi saat berhubungan intim adalah normal-normal saja. Bagaimana, Pak.. apa Bapak mau melanjutkan terapi yang terakhir besok?"

Tentu saja aku mau melanjutkannya. Wong disuruh berhubungan intim dengan gratis saat terapi, siapa yang nggak mau? Aku pun kemudian mengiyakan sarannya itu. Seperti yang kuduga ternyata keesokan harinya Dokter Amy Yip tidak lagi mengenakan apa-apa di balik baju prakteknya. Aku pun segera membuka semua pakaianku. Lalu dengan ganas kuserbu tubuhnya yang sudah berbaring menantang di atas ranjang. Pertama kucium keningnya, lalu turun ke bibir, pipi, leher hingga payudaranya yang amat kenyal itu. Di sana kujilat dan kupelintir putingnya yang merah kecoklatan. Ia pun merem-melek. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian kepalaku bergerak menuju pangkal pahanya. Di sana kembali kujilati bibir vagina dan klitorisnya. Kujulurkan lidahku ke dalam vaginanya sambil tangan kananku terus meremas-remas payudaranya.

Setelah beberapa menit, ternyata penisku sudah berdiri tegang dan mengeras. Tanpa menunggu diperintah lagi, kuarahkan penisku ke liang kewanitaannya. Dengan sekali sentak, masuklah penisku dengan mudahnya. Rupanya ia sudah tidak perawan. Tanpa susah payah aku terus menggenjot dan memompa penisku agar bisa benar-benar memuaskan dirinya. Saat itu aku lupa segalanya, terapi, isteriku yang sedang menunggu dengan harap cemas di Surabaya, pekerjaan di kantor yang menumpuk, dll. Pokoknya kesempatan ini tidak bisa dilewatkan. Sementara itu Dokter Amy Yip terus saja menggoyang-goyangkan pantatnya dengan lembut. Ia mencoba untuk mengimbangi serangan gencarku.

Sekitar lima belas menit berlalu. Dan tiba-tiba saja perasaanku seperti melayang. Aku merasakan kenikmatan luar biasa. "Aku ingin keluar, Dok.. sebaiknya di dalam atau.." tanyaku di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan. "Di dalam saja Pak.. biar nikmat.." jawabnya seenaknya. Rupanya ia pun akan mengalami orgasme. Dan benar, beberapa saat kemudian ia orgasme. Kemaluanku seperti disemprot dalam liang vaginanya. Sementara itu spermaku pun dengan derasnya mengalir ke dalam liang vaginanya. Aku pun akhirnya jatuh tertidur di atas tubuhnya. Ternyata dokter itu masih ingat bahwa apa yang kami lakukan adalah terapi. Ia segera melirik arlojinya dan segera membangunkanku.

"Lima belas menit sepuluh detik.. selamat Pak Kuntoro.. kondisi Anda kembali normal.. bahkan sangat normal.." ujarnya sambil mengenakan pakaiannya kembali dan menyalamiku. Aku yang baru saja keletihan melayani nafsu seksnya tentu saja tertegun. Lima belas menit? Wah hebat. Aku sembuh, Lilian! Aku sembuh! Hampir saja aku meloncat-loncat.

Setelah membereskan semuanya, aku pun segera pulang ke Surabaya malam itu juga. Betapa bahagianya aku sekarang. Pasti Lilian akan gembira menyambut kesembuhanku. Dan benar dugaanku. Saat ini sudah tiga bulan kejadian itu berlalu. Lilian pun mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Menstruasinya sudah terlambat seminggu. Untung ada dokter seksi Amy Yip.

The art of sex

Beberapa bulan lalu aku pergi ke rumah teman aku untuk meminjam catatan sejarah miliknya, karena aku selalu tertidur di kelas ketika pelajaran itu. Ketika sampai di tempatnya, ternyata teman aku tidak ada di tempat. Pada saat itu yang membuka pintu adalah Adik perempuannya (sebut saja Santi) yang juga satu sekolah dengan aku.

"Mau nunggu Kakak pulang apa ntar mau balik lagi neh?" tanyanya.
Setelah berpikir sebentar, aku menjawab "Gue nunggu dalem aja deh, capek bolak balik nih, mana mataharinya panas kayak gini lagi."

Akhirnya aku masuk dan duduk di bangku teras rumahnya. 30 menit berlalu, teman aku masih belum kembali.

"Kemana sih ini anak, keluar enggak bawa HP lagi" pikir aku setelah sebelumnya mencoba menghubungi hpnya.

Karena merasa bosan duduk sendirian di luar, maka aku pun akhirnya masuk ke ruang tamu yang ternyata telah dihuni oleh 2 cewek teman Santi. Tidak berapa lama kemudian Santi pun keluar dari kamarnya dengan memakai rok mini.

"Sory yah enggak nemenin tadi, Gue tadi lagi mau mandi pas lo bel." sapanya sambil duduk tidak jauh disampingku.
"Oh, Nggak apa-apa kok." jawabku sekenanya sambil mataku terus melihat teman-teman Santi yang sedang asyik bermain video game.

Ketika aku sedang asyik-asyiknya membaca majalah, tiba-tiba saja Santi menyambar ke arah aku karena dia berusaha mengelak dari bantal yang dilempar oleh temannya (entah apa sebabnya, karena aku sedang konsen lihat majalah musik), secara spontan aku pun menahan tubuh Santi yang melompat ke pangkuan aku. Saat itu tangan kanan aku tidak sengaja menyentuh buah dada Santi, seketika itu pula Santi melihat ke arah aku dengan raut muka yang tiba-tiba serius.

"Waduh gila.. Bisa digampar nih Gue di depan teman-temannya" pikirku saat itu sambil siap-siap memejamkan mata menerima telapak tangan dari Santi. Ternyata tidak ada respon dari Santi, ketika aku kembali melihat wajah Santi, dia malah membalas tatapan aku dengan senyuman kecilnya yang manis.

"Kok enggak negor atau marah sih nih anak? Malah senyum. Jangan-jangan.."

Refleksi kejadian 'kecelakaan' tadi terus terulang-pulang di pikiranku.

"Weh.. Bengong lagi.. Napa loe? Gegar otak yah ketabrak sama Gue?" ujarnya sambil ketawa.
"Enggak kok, lagi bingung mau baca majalah apalagi nih." jawabku sekenanya.
"Itu di bawah meja banyak majalah kok, pilih aja sendiri." jawab Santi.

Akupun menunduk untuk mencari majalah di bawah meja tamu yang posisinya tepat berada di depan kami sambil mataku mencuri pandang ke arah rok Santi. Ternyata Santi sejak tadi terus mengamati gerak gerik aku, lalu secara perlahan dia mulai membuka kedua pahanya.

"OMG! Santi enggak pake celana dalam!" pikirku sambil secara spontan mataku melihat ke wajahnya, secepat kilat Santi mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya yang seksi sambil mengedipkan sebelah matanya seperti ingin mengatakan.

"Sstt.."
"Wah Adik teman Gue bitchy banget nih, berani banget di depan teman-temannya" pikirku dalam hati.

Kemudian akupun kembali duduk disampingnya tetapi kali ini aku duduk lebih rapat dari sebelumnya. Dengan memberanikan diri, aku letakkan tangan kanan aku ke atas pahanya dan ternyata Santi diam saja, malah dia masih bisa meledek teman-temannya yang sedang asyik bermain dengan permainan mereka sendiri. Secara perlahan aku mengelus pahanya yang dilanjutkan dengan menyusupkan tangan aku masuk ke dalam rok Santi.

"Wah.. Gila bulunya kayaknya pendek-pendek. Seksi.."

Santi pun segera mengambil bantal sofa dan menutup tangan aku yang sudah mulai masuk ke dalam roknya. Secara perlahan aku elus bibir vaginanya dengan lembut, terlihat raut wajah Santi sudah mulai berubah, wajahnya mulai merah. Belum puas dengan permainan di luar, akupun mulai memasukkan jari tengah aku ke dalam vaginanya untuk mencari clittorisnya dan tidak lama kemudian aku mulai memutar-mutar sambil menekan-nekan jari aku di atas clittorisnya. Pada saat itu, Santi mulai memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan suara lenguhannya yang tertahan karena takut terdengar temannya.

"Mmhh.."

Sedang asyik-asyiknya memainkan clitorisnya, tiba-tiba timbul dalam pikiran aku untuk mempermainkan Santi. Segera aku cabut tangan aku dari rok mininya, Santi pun kembali menatap wajahku dengan terheran heran. Akupun membalas tatapannya dengan tersenyum kecil. Santi tampaknya kesal dengan berhentinya permainan kami, akhirnya akupun pura-pura bertanya.

"Gue ke kamar Kakak loe aja deh ambil catatannya, loe tahu enggak dimana Kakak loe taro tas skulnya?".
Seketika itu pula Santi kembali tersenyum binal sambil menjawab, "Tahu, yuk Gue temanin loe ambil" katanya sambil bangkit berdiri dan berjalan di depan aku menuju ke lantai 2 tempat kamar kakaknya berada.

Ketika kami sudah masuk ke dalam kamar kakaknya, Santi segera mencubit perut aku sambil berkata, "Jahat ih.. Bikin Gue horny kayak gini, menderita tahu!"

Baru saja aku mau menjawab sorry, tiba-tiba mulut aku disambar olehnya.

"Hhmm.. Mmhh.. Mmhh.." gumamnya.
"Ini cewek napsuan amat sih" pikirku.

Tidak lama kemudian Santi mendorongku ke atas ranjang dengan tatapan matanya yang liar, dia membuka kancing kemeja aku satu persatu dengan mulutnya dan tangannya membuka celana jeans aku yang sejak tadi menahan 'Mr. P'ku. Ketika aku ingin membuka kaos ketatnya, dia malah menepis tangan aku, "Loe relax aja, let me do it by myself."

Setelah aku telanjang bulat, Santi pun mulai mengulum 'Mr. P's eggs dengan napsunya.

"Gimana sayang? Enak enggak." tanyanya sambil tangan kanannya mengocok 'Mr. P'. Hanya orang tolol yang menjawab 'Tidak!. "Enak say.. terus dong.. jangan berhenti.." jawabku dengan penuh napsu.

Sedang asyik-asyiknya Mr. P ku di oral oleh Santi, tiba-tiba dia berhenti dan menyentil Mr. P ku.

"Aduh.. Sakit tahu.." teriakku dengan suara tertahan.
Santi pun hanya tertawa sambil menjawab, "Siapa suruh bikin Gue horny di bawah tadi!".
"Sekarang loe duduk aja, lihat Gue nari." ujarnya sambil menyalakan music box di atas meja belajar kakaknya.

Tidak lama kemudian lagu trance mulai terdengar dan Santi pun mulai menari sambil melepaskan pakaiannya satu persatu seperti penari strip tease profesional.

"Aarrgghh.. Gue enggak bisa nunggu lagi nih, enggak tahan!" pikirku sambil berdiri dan langsung memeluk tubuh Santi yang masih asyik bergoyang. Aku angkat badannya yang seksi ke atas ranjang dan mulai mencium buah dadanya.

"Kali ini Gue bales loe!" pikirku.

Perlahan kupermainkan dengan memutar mutar lidahku di sekeliling puting susunya sambil berusaha tidak menyentuh putingnya.

"Uuugghh.. Enak.. Iya terus di situ say.. Ugghh.. Naik dikit lagi.." risihnya.

Risihannya tidak kuacuhkan sambil terus melanjutkan permainan lidahku tidak lama kemudian tampak Santi berusaha menggerakkan tubuhnya agar lidahku bisa menyentuh puting susunya, pada saat ini kugigit putingnya perlahan dan dia pun berteriak nikmat.

"Acchh.. Enak.. terus say.. Gigit.. Isep.."

Akupun meluluskan permintaannya. Setelah puas bermain dengan buah dadanya, akupun mulai turun kebawah dan tampak vagina Santi sudah banjir karena permainanku dengan putingnya tadi. Kali ini aku mulai memainkan permainan keduaku di depan bibir vaginanya, kusentuh bibirnya dengan hidungku sambil mencium dan menjilat bibirnya.

"Hhmm.. vagina loe wangi say.. Terawat lagi kebunnya.. Bikin Gue napsu nih say.." godaku.
"Ayo dong yang.. Jangan dilihatin doang dong.." jawabnya penuh napsu.

Akupun memenuhi kembali permintaannya dengan memainkan clittorisnya dengan lidahku.

"Mmhh.. Iya say.. Di situ.. Enak.. Ugghh.. terus.. Gue sudah mau keluar nih.. terus.. Uuugghh.." racaunya tidak karuan sambil kedua pahanya mulai menjepit kepalaku.
"Aacchh.. Gue keluar yang.. Uuugghh.." tampak keluar air awet muda dari dalam vaginanya.

Beberapa saat berlalu, aku pun mulai kembali mencium buah dadanya sambil memasukan Mr. P ke dalam vaginanya yang sudah licin. Perlahan lahan aku masukkan Mr. P.

"Mmhh.. Ketat banget nih.." ujarku.
"Uuugghh.. Lebih dalam lagi yang.. Masukin lagi.. Uuugghh.." lenguhnya tidak karuan.

Kudiamkan Mr. P ku di dalam vaginanya setelah mulai terasa tembok vaginanya menyentuh Mr. P ku, sambil terus kucium bibirnya.

"Lo cantik banget deh San"

Belum sempat dia menjawab, kudorong pantatku ke depan.

"Aacchh.." teriaknya.

Setelah itu kumulai permainan Mr. P ku. Awalnya kudorong perlahan namun pasti, semakin lama semakin cepat gerakanku..

"Acchh.. Aacchh.. Enak.. terus yang.. jugan berhenti. terus.. Ugghh.." racaunya sambil tangannya mulai mencakar punggungku.
"Aacchh.. Aacchh.. Iya.. terus.. Fuck me.. Faster.. Faster.. Aacchh.." teriaknya sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama pinggulku yang secara intensif terus menghujam vaginanya.
"Gue sudah mau nyampe nih.. Aacchh.." ujarnya.
"Gue juga nih.. Bentar lagi keluar nih.. Uuugghh.." jawabku menahan napsu.
Tidak lama kemudian, "Gue keluar.. Aacchh.." teriaknya puas.

Akupun segera mencabut Mr. P keluar dari. Vaginanya yang dilanjutkan dengan memompa Mr. P ku di atas perutnya dan..

"Oocchh.. Oocchh.. Huah.." teriakku puas.

Santi pun bangkit dan mengulum dan membersihkan sisa2x sperma Mr. P ku yang mulai melemas. Tidak lama kemudian, kami pun mulai membersihkan diri dengan tissue dan akupun mulai berpakaian.

"Kok udahan sih.." tanyanya.
"Ntar kalau Kakak loe balik gimana? Ntar aja lanjut lagi, kan masih ada hari esok." jawabku sambil bercanda.

Santi pun mengerti dan mulai berpakaian. Ketika Santi turun, terdengar suara temannya menyindir.

"Nyari bukunya lama amat.. Nyari buku apa ngapain tuh.." diikuti suara tawa.
"Mau tahu aja loe nek!" jawab Santi sekenanya.

Akupun akhirnya menyusul turun sambil diikuti oleh lirikan teman-temannya dengan tatapan yang penuh curiga. Aku hanya bisa berlagak cuek bebek sambil berjalan ke arah pintu gerbang. Di depan pintu Santi meminta nomor HP ku.

"Kapan-kapan ke sini lagi yah." ujarnya sambil mencubit perutku.
Setelah kuberikan nomor HP ku, akupun menjawab dengan nada bercanda, "Enggak mau ah.."
"Awas loe yah!" ujarnya.

Malamnya kamipun kembali melanjutkan permainan sex kami di dalam mobilku. Semenjak hari itu kami sering bermain di berbagai tempat, bahkan kami pernah bolos pelajaran dan bermain sex di dalam WC wanita sekolah kami.

Teman kuliahku penari striptease

Pengalaman saya berikut ini sebenarnya cukup aneh untuk diri saya sendiri. Anggap saja nama saya Dimas. Ceritanya ketika beberapa bulan yang lalu, ketika saya dan teman–teman berpatungan menyewa sebuah kamar di hotel bintang 5, yaitu hotel Borobudur. Kami semua 4 orang adalah teman yang cukup akrab sejak kecil. Maksud kami semua menyewa kamar di hotel tersebut adalah karena selain mendapat diskon untuk harga kamar, kami juga ingin bermaksud menyewa dan menonton striptease di malam harinya. Kami berempat adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta, sedangkan ketiga teman saya yang lainnya lain universitas dengan saya. Akhirnya setelah dirundingkan kami akan menginap di hotel tersebut pada hari Sabtu malam, karena di hotel itu juga terdapat sebuah cafe yang cukup terkenal, yaitu "Musro" atau Music Room. Untuk urusan menyewa striptease-nya saya menyerahkan urusan itu pada teman saya yang memang sudah sering melakukan transaksi seperti itu.

Dan pada hari yang ditunggu–tunggu akhirnya tibalah malam Sabtu itu. Setelah kami makan malam di hotel tersebut, kira–kira sekitar pukul 20:30 kami semua kembali ke kamar, karena cewek striptease-nya akan datang sekitar jam 21:00. Dan akhirnya sekitar jam 9:00 lewat bunyilah bel kamar, dan teman saya membuka dan ternyata benar itu adalah si cewek striptease. Begitu dia masuk dan saya melihatnya, alangkah kagetnya saya kalau si cewek itu tidak lain adalah teman sekelas kuliah saya di kampus yang bernama Dewi. Wajah Dewi juga sempat pucat, mungkin karena dia juga kaget melihat yang menyewanya adalah ternyata saya, tidak lain teman ngobrolnya juga di kampus. Memang Dewi sempat saya taksir ketika saya baru masuk kuliah, karena dia memiliki tinggi sekitar 168 cm, dengan berat 50 kg. Menurut saya itu cukup ideal, ditambah ukuran payudaranya yang cukup besar, yaitu 36B. Cuma pada waktu itu saya mengurungkan niat saya untuk mendekatinya karena Dewi sudah memiliki kekasih seorang pilot di sebuah perusahaan penerbangan nasional.

Setelah melihatnya, saya langsung mengajak Dewi untuk mengobrolnya di luar kamar sebentar. Saya mengatakan saya tidak tahu kalau yang disewa itu adalah Dewi, dan saya tidak tega menonton teman sekampus saya sendiri melakukan striptease. Dan akhirnya saya bilang sama teman–teman saya yang lain, bahwa saya tidak tega untuk melihatnya. Maka setelah itu saya terlebih dulu pergi ke "Musro". Kira–kira setelah 2 jam, teman–teman saya itu kemudian menyusul ke "Musro" dan membawa Dewi juga. Teman–teman saya memanasi saya dengan bilang kalau tubuh teman saya si Dewi memang aduhai, apalagi goyangannya. Akhirnya setelah teman–teman saya yang lain turun ke dance floor, saya berbicara dengan Dewi, saya menanyakan kenapa dia bisa sampai terjun ke dunia seperti ini, dan bagaimana tanggapan pacarnya yang pilot itu. Ternyata dia melakukan ini karena kebutuhan uang, maklum dia adalah anak daerah, dan kiriman dari daerah selalu telat, selain itu dia juga mengakui kalau nafsu seksnya agak berlebihan. Untuk urusan pacarnya, dia bilang kalau pacarnya yang pilot itu tidak tahu sama sekali dengan kegiatannya.

"Mas.. kamu kenapa nggak ikutan nonton tadi di atas?" tanyanya.
"Saya nggak tega liat kamu Dew, kita kan sering main di kampus, masa saya pake kamu?" jawabku.
"Padahal nggak apa–apa kok, kan sudah resiko pekerjaan aku loh Mas.." jawab Dewi.
"Yah.. lain kali aja deh yah.." jawabku sambil bercanda.

Lama–lama setelah bicara panjang lebar muncul juga pikiran nakalku, bagaimana tidak, Dewi dulu pernah saya taksir, sekarang giliran saya bisa pakai kenapa tidak dipakai saja? Hehehe.. Akhirnya tiba–tiba saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya ingin memakainya malam ini, dan Dewi mengatakan boleh–boleh saja. Dan kemudian saya memberitahu pada teman–teman yang sedang asyik di dance floor kalau jangan ada yang balik ke kamar sebelum jam 3:00 subuh. Lalu saya dan Dewi akhirnya naik berdua ke kamar yang kami sewa. Setelah di dalam kamar mula–mula saya agak canggung, bagaimana tidak, saya memakai teman sekelas saya untuk memenuhi kebutuhan seks saya. Sedangkan Dewi santai–santai saja, apa mungkin sudah berpengalaman, pikir saya.

Akhirnya setelah Dewi yang memulai dengan memeluk saya dan menciumi saya, barulah gantian saya juga membalas ciumannya. Lama–lama saya menjadi nafsu dan sudah lupa kalau cewek depan saya itu adalah Dewi teman kelas saya, dan akhirnya saya membuka baju ketatnya, sehingga payudaranya yang cukup montok terlihat dengan jelas. Kemudian saya remas–remas dan saya ciumi dengan seksama. Terlihat dari muka Dewi bahwa dia juga ikut merasakan kenikmatan cumbuan saya. Tanpa disuruh saya, kemudian Dewi langsung membuka celana saya, dan terlihatlah batang kemaluan saya yang cukup besar, yah.. ukuran normal deh. Dijilatnya dan dihisapnya dengan penuh nafsu, sehingga lama–lama mulai basahlah kemaluan saya itu.

Semakin malam rupanya semakin panas kami berdua bercumbu, dan saya mulai melucuti semua pakaiannya, dan mulailah menciumi dan menjilat lubang kemaluannya. Bulu–bulu halus tidak menghalangi lidah saya untuk terus menjilatinya. "Aghh.. Mas, kamu pintar sekali merangsang.." desahnya. "Uh.. uh.. arghh.." desahnya dengan nafas yang sudah tidak karuan lagi. Dan pada akhirnya tiba–tiba Dewi orgasme terlebih dahulu, mungkin karena permainan lidah saya yang cukup handal. Dengan tubuh yang tiba–tiba mengejang dia memegang rambut saya. Setelah melihat itu, saya menjadi semakin nafsu saja. Kemudian Dewi saya suruh mengangkang dengan lebar, sehingga lubang kemaluannya terlihat dengan jelas, dan langsung saya melakukan penetrasi ke kemaluannya. "Ooghh.. ahh.. ahh.." desahanku. "Mass.. sakitt sekali.." teriak Dewi sambil menahan sakit. Waktu terus berjalan dan rasa sakit itu sudah berubah menjadi rasa nikmat yang tiada tara, yang terdengar kini adalah suara desahan nafsu dari Dewi yang minta agar gerakan saya semakin cepat. "Uh.. dorong lebih cepat lagi dong Mas.. oghh.." desahnya. Bosan dengan gaya tersebut, maka kami merubah gaya, dengan saya di bawah dan Dewi di atas saya. Setelah batang kemaluan saya dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya, maka mulailah Dewi menggerakkan pinggulnya naik-turun, dari gerakan pelan dan makin lama semakin cepat dan pasti.
"Ohh.. nikmat sekali Dew.." kata saya.
"Iya Mas.. benar–benar malam yang tidak terlupakan.." jawabnya.
Tidak lama kemudian tiba–tiba tubuh Dewi mengejang kembali, dan saya merasakan adanya cairan hangat yang membasahi batang kemaluan saya yang masih tertanam di dalam lubang kemaluannya. Oh, sungguh kenikmatan yang luar biasa, dan batang kemaluan saya merasakan pijatan otot–otot lubang kemaluannya yang kuat. Kemudian tidak terlalu lama kemudian giliran saya yang mengeluarkan cairan mani saya di dalam lubang kemaluannya.

Setelah dua jam bermain, akhirnya kami merasakan lelah sedikit. Dan akhirnya permainan berhenti, dan kami berdua kembali merapikan tubuh masing–masing dan siap kembali menuju "Musro" untuk bertemu dengan teman–teman yang lain. Dalam perjalan menuju "Musro" saya masih sempat bercanda dengan mengatakan bahwa saya belum puas dengan malam ini dan ingin melakukannya. Lalu Dewi mengatakan bahwa dia mau–mau saja, dan dia tidak keberatan sama sekali. Maka setelah itu saya memesan kamar untuk kami berdua, dan mungkin teman-teman saya bingung akan sifat saya yang tadinya malu untuk melihat teman kelasnya menjadi striptease, kok sekarang malah bernafsu sekali.

Akhirnya malam harinya sampai pagi harinya kami melakukan kembali sampai 3 kali. Benar–benar weekend yang tidak terlupakan buat saya. Besok siangnya sebelum kami check out, saya dan Dewi melakukannya kembali di kamar mandi. Sampai sekarang saya masih sering bertemu di kampus dengan Dewi, walaupun tidak semua mata kuliah saya selalu sekelas dengan dia, rahasia ini cuma kami berdua yang tahu. Dan terus terang saja saya sering sekali memakai dia.

Terjerat pergaulan bebas

Saya terlahir dari keluarga berada, dan cukup terhormat. Dan saya keturunan Indo, campuran dari berbagai suku bangsa (negara). Saya pun tumbuh layaknya gadis lain. Lincah, banyak teman dan di sekolahan termasuk murid pintar. Itu kata Bu Guru dan teman-teman. Tapi, dari nilai yang ada di rapor dengan rata-rata delapan bisa jadi kata Guru dan teman-teman itu benar. Namun dalam perjalanan pendidikan sempat mengalami hambatan. Dan akhirnya dapat juga menyelesaikan pendidikan diploma (2) bidang sekretaris, yang sempat terseok-seok disebabkan oleb pergaulanku yang sudah termasuk kelewat batas.

Saya memang termasuk anak yang menganut pergaulan bebas. Tepatnya kelas dua SMA sudah menjalin kasih dengan teman sekolah. Dan hubungan kami sampai di luar batas. Melakukan hal yang mestinya baru boleh dilakukan setelah ada ikatan resmi, nikah.

Itu terjadi karena dalam keluargaku saya bungsu dan empat bersaudara kurang mendapat didikan dan perhatian dari kedua orang tua. Kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dan kami anak-anaknya dipercayakan kepada pembantu. Ayah dan ibu seolah berkewajiban hanya menyiapkan uang untuk berbagai kebutuhan. Tapi dari segi kasih sayang sama sekali tidak merasakan. Karena ayah dan ibu pulang rata-rata sudah larut malam. Untuk sekadar makan bersama atau kumpul keluarga saja boleh dikatakan hampir tak pernah.

Kondisi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh ketiga kakakku, dua pertama perempuan, dan ketiga laki-laki. Bisa jadi karena sudah biasa. Tapi bagi saya (bungsu), sangat mendambakan belaian dan kasih sayang yang hangat dari ayah dan ibu. Dan harapan itu sangat terasa saat menjelang tidur malam. Ingin rasanya mendapat pelukan dan ciuman khususnya dari ibuku. Namun akhirnya dari harapan kasih dari kedua orang tua yang tak kunjung tiba, membuat saya menjadi terbiasa mandiri. Bahkan menjadikan saya perempuan tegar tidak cengeng. Hampir semua persoalan hidup, saya hadapi dan coba selesaikan sendiri.

Akhirnya dalam pergaulan untuk menghilangkan stres dan rasa penat di dalam rumah, sering keluar jalan-jalan mencari hiburan nonton film ramai-ramai bersama teman atau sekadar kongkow-kongkow hingga larut malam. Di dalam pergaulan ini saya mengenal yang namanya obat-obatan dan mulai merokok. Sepertinya saat itu tidak ada beban dan rasa bersalah dengan keputusan yang saya ambil itu.

Apalagi ketiga kakakku juga tidak ada yang dapat sebagai panutan. Semua bersikap cuek. Jadi yang kuperbuat ya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang, apalagi masing-masing (kakak-kakakku) punya kesibukan sendiri-sendiri. Yang pertama Kak Intan, yang saat itu sedang kuliah asyik dengan kehidupannya sendiri bersama sang pacar satu kampus.

Kak Mira (kedua) kelakuannya juga tidak terlalu berbeda dengan Kak Intan. Di samping kuliah juga terlalu asyik dengan pacarnya. Sementara Kak Niko (ketiga) memang lebih liar dibanding kedua kakak perempuannya. Hampir tiap hari pulang larut malam. Dan sekolahnya boleh dikatakan sudah drop. Kerjanya hanya main, dan kalau siang tidur. Tiap hari minta uang kepada ayah, jika tidak diberi pindah minta ke ibu. Ada saja alasan untuk kebutuhan. Saya sendiri sebagai adik sampai berpikir mau jadi apa nanti Kak Niko itu.

Pernah suatu hari, saya merasa kurang nikmat badan dan minta ijin pulang. Sampai di rumah, di kamar kakakku Intan yang bersebelahan dengan kamarku terdengar suara aneh, rintihan tapi disertai desahan. Yang sedianya pulang untuk istirahat, dengan adanya suara itu saya penasaran mencari tahu. Kondisi rumah, jika siang memang sepi. Karena semua kakakku dan aku pergi sekolah. Tinggallah pembantu sendirian. Kadang kakak Intan memang kuliah siang. Seperti siang itu, Kak Intan kuliah siang.

Saya coba membuka pintu kamar Kak Intan, dalam benak saya siapa tahu sakit seperti saya dan perlu pertolongan. Tapi pintu dikunci. Suara itu makin jelas, dan sepertinya Kak Intan tidak sendirian. Nah saya mencoba mengintip lewat lubang kunci. Degup jantungku bergetar keras dan kencang. Melihat adegan seni yang saya ketahui, meski masih dalam khayalan dari membaca stensilan yang dipinjami teman.

Cukup goyah lututku menyaksikan keasyikan kakakku yang tanpa pembalut tubuh bergelut dengan teman prianya. Perbuatan yang sebelumnya hanya saya khayalkan, kini terpampang di depan mata disajikan oleh kakakku Intan. Cukup lama pergumulan itu berlangsung. Dengan rasa tak tahan namun kepinginnya terus nonton, saya masuk kamar dan rebahan. Suara kakaku dan teman prianya terus menggoda. Akhirnya saya tidak lagi merasakan sakit, bahkan penyakit pusing itu lantas hilang begitu saja.

Suara desahan Kak Intan tidak kedengaran lagi, yang ada obrolan mereka berdua. Dan mereka lantas berangkat kuliah. Tidak tahu jika saya pulang lebih awal dan telah menyaksikan perbuatan bejatnya. Sayapun terus membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak tahu apa yang telah dilakukan dengan kekasihnya. Kepada ayah dan ibu saya juga tidak bercerita, saya pikir apa pedulinya toh sepertinya kakak saya begitu menikmati terlihat dan cara bermain dan pagutannya saat itu.

Sejak kejadian itu, saya jadi sering bolos sekolah. Ingin mengulang menonton 'pergulatan' Kak Intan. Dengan cara mengendap-endap masuk rumah takut ketahuan terus menyelinap masuk kamar. Namun harapan untuk mendapatkan tontotan menarik seperti siang kemarin sia-sia. Karena teryata Kak Intan kuliah pagi.

Nah saat saya dalam keadaan antara tertidur, terdengar sayup-sayup suara dua orang sedang ngobrol di kamar sebelah, kamar Kak Mira (kakak kedua saya). Pikir saya mereka baru pulang kuliah. Kamar Kak Mira memang bersebelahan dengan saya. Kamar kami (cewek) bertiga berjejer, dan saya yang di tengah. Sementara kakak laki-laki saya, Niko kamarnya di depan.

Kak Mira pulang kuliah mengajak teman laki-laki ke rumah. Pertama obrolan itu soal pelajaran. Namun lama-lama suara obrolan itu hilang, berganti suara desahan. Saya kontan bangun dan mengendap-endap mencari lubang kunci. Dan setelah di luar saya terkejut, karena pintu Kak Mira tidak ditutup dan terbuka cukup lebar. Saya sendiri jadi serba salah, takut ketahuan. Tapi suara musik di kamar Kak Mira membuat langkah dan gerakan saya tidak terdengar. Bahkan Kak Mira sepertinya tidak peduli dengan pintu yang masih terbuka itu.

Setelah mendapat posisi yang aman, saya mengamati dengan cermat gerakan demi gerakan yang dilakukan Kak Mira bersama temannya. Terlihat mereka masih mengenakan pakaian lengkap. Hanya saja rok Kak Mira mulai tersingkap, CD-nya terlihat. Sementara Si pria masih lengkap dengan t-shirt dan celana jeans. Tapi pagutan dan ciuman mereka berdua sepertinya membawa ke langkah yang makin seru. Masing-masing berlomba melucuti pakaian lawannya. Hingga akhirmya keduanya dalam kondisi telanjang. Cukup nanar dan gemetar juga saya menyaksikan adegan itu. Dan adegan seperti itu pernah saya saksikan lewat film BF bersama teman-teman usai sekolah, di rumah Linda (teman sekelas). Dan kedua saat melihat Kak Intan sedang main dengan pacarnya. Namun saat nonton Kak Intan kurang seru disamping lewat lubang kunci, shownya sudah setengah main.

Hari ini sungguh berbeda, saya menyaksikan seluruh permainan dari awal. Sungguh mendebarkan, Kak Mira meraih batang penis pacarnya, kemudian mulai dikocok-kocok dengan perlahan. Terlihat batang penis pacar kakakku mulai tampak membesar dan memanjang, sampai akhirnya dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan bagaimana batang penis yang tadinya layu kini telah berdiri dengan kerasnya dan sangat panjang, mengundang hasrat birahiku untuk turut merasakan kehangatan dan kedahsyatan penis pacar kakakku ini. Dengan penuh birahi kakakku mulai mengulum batang penis dihadapannya, sementara tangannya tetap mengocok-ngocok bagian tengah kebawah batang penis, kulihat tubuh pacar kakakku berkelejat-kelejat dan dari mimik wajahnya seakan menahan serangan kenikmatan yang datang bertubi-tubi di daerah sekitar batang kepala penisnya.

Pergulatan Kak Mira dan temannya semakin seru, saling memagut, mendesah, memburu, dan akhirnya saya lihat mereka berdua berada dalam permainan seks yang menggairahkan saat teman kakakku mulai memasukkan batang penisnya yang panjang kedalam vagina kakakku, kudengar kakakku mulai berteriak-teriak kecil dengan disertai desahan-desahan penuh birahi, kuakui memang teman kakakku ini memiliki stamina yang kuat sanggup bermain dalam satu jam dalam beberapa posisi yang pernah kulihat dalam video seks kamasutra, kuhitung-hitung kakakku sudah mengalami orgasme tiga kali dalam permainan tersebut, hingga pada akhirnya kulihat teman kakakku menggenjot-genjotkan batang penisnya secara cepat, dan.., tiba-tiba manarik batang penisnya dengan cepat dari vagina kakakku, dan beberapa detik kemudian kulihat semprotan sperma begitu banyaknya dan akhirnya teman kakakku mulai terkulai lemas dengan mandi keringat. Namun posisi mereka tetap berpelukan.

Saya pun dengan lemas dan gemetar masuk kamar. Namun pada saat menyaksikan adegan pergumulan itu tidak terasa tangan saya seperti dibimbing meraba dan menyentuh 'barang' terlarang milik saya. Dengan tidak sadar tangan saya mengusap-usap diantara selangkangan. Dan saya mendapatkan rasa kenikmatan. Sepertinya ada cairan yang keluar dari dalam, dan saya tidak tahu apa yang keluar itu. Yang ada rasa nikmat tiada tara saat itu.

Nah perbuatan itu (mengusap kemaluan) saya lakukan di saat sendirian di dalam kamar. Dan ternyata saya mendapat kenikmatan yang sama seperti saat sedang nonton Kak Mira bercumbu. Bahkan perbuatan itu terus diulang-ulang. Rasa penasaran pun makin menjadi-jadi, akhirnya saya ingin tahu bagaimana rasanya berhubungan. Suatu saat, sebetulnya tidak sengaja. Saya bermaksud pinjam catatan pelajaran kepada pacar, yang tidak sempat saya ikuti karena tidak masuk sekolah. Kebetulan buku itu ada di rumah. Maka saya diajak ke rumahnya mengambil buku itu.

Rumah pacar saya siang itu sepi. Kedua orang tuanya bekerja, sementara pacar saya anak satu-satunya. Yang ada di rumah hanya pembantu. Rumah itu cukup besar dan sepi. Saya dipersilakan masuk, dan diajak ke kamarnya. Setelah diambilkan minum, kami ngobrol. Pacar saya sepertinya telah berpengalaman dalam berpacaran. Terlihat dan saat ngobrol tangannya mulai aktif meraba daerah sekwilda (sekitar wilayah dada) milik saya. Namun anehnya saya menikmati, dan membiarkan tangan itu menelusuri daerah sensitif saya.

Teringat yang dilakukan pacar saya, seperti saat pacar Kak Mira melakukan hal yang sama. Saya pun terlena dalam kenikmatan, seperti terbang diawang-awang. Dan akhirnya perbuatan yang tadinya hanya dalam angan, kini kunikmati sungguhan. Kamipun sudah dalam kondisi polos, suara mendesah bercampur degup kencang jantung ada di dalam tubuhku. Saya pun rebah ditindih. Bukan sakit yang saya rasakan, tapi kenikmatan. Dan akhirnya kami pun sampai batas 'perburuan', lemas, lunglai dan bermandikan keringat. Untuk beberapa saat kami berpelukan, rasanya tidak ingin melepas, malah inginnya mengulang lagi. Dan perbuatan itu kami ulang setiap ada kesempatan. Sampai selesai sekolah diploma. Kamipun sebelum melakukan hubungan sering menggunakan obat-obatan terlebih dulu. Dan ternyata berdampak makin lebih nikmat dalam berhubungan. Hubungan kamipun lepas begitu saja, setelah pacar dengan alasan meneruskan sekolah, pergi ke luar negeri.

Bagi saya kepergian pacar saat itu tidak masalah. Toh dalam benak saya masih banyak pria lain yang antri untuk bisa kencan denganku. Mengingat dan merasakan pengalaman seks selama ini, banyak laki-laki yang mencoba mendekati saya dan mengutarakan cinta. Saya saja yang agak jual mahal. Nah saat baru selesai sekolah (diploma), sementara lagi kosong pacar tidak ada, saya banyak tinggal di rumah. Kegiatan diisi dengan baca buku, dan baca apa saja. Paling kalau jenuh, ke rumah teman ngobrol hingga malam, terus pulang langsung tidur.

Saat pulang pukul 24.00 WIB, dan pintu rumah memang hampir tidak pernah terkunci, saat buka pintu melewati depan kamar Kak Niko terdengar suara agak aneh. Ada desahan suara tertahan, sementara ada pula suara cekikikan. Saya yakin di kamar Kak Niko ada dua orang. Kebetulan saat itu ayah sedang tugas ke luar kota, dan ibu ikut mendampinginya. Ruang depan memang sudah gelap, tapi ruang Kak Niko terang, jadi cukup leluasa saya mencari tahu apa yang sedang dikerjakan kakakku. Kebetulan Kak Niko tidak pernah menutup jendela kamarnya yang terletak di dalam rumah. Dari jendela itu, saya mengendap mengintip. Dalam benak saya, yang terjadi di dalam kamar sama dengan kejadian seperti Kak Intan dan Kak Mira saat itu, 'pergumulan'.

Benar saja. Kakak saya dan teman wanitanya setengab baya (35-an) namun masih terlihat cantik dan seksi sedang bergumul tanpa sehelai pakaian. Kak Niko terlihat begita asyik mencumbu, dan tak henti-hentinya menciumi seluruh bagian lekuk-lekuk tubuh si wanita. Si wanita menggelinjang, tertawa cekikikan di antara desahan yang tertahan.

Cukup lama permainan mereka itu berlangsung. Bahkan Si wanita sepertinya sudah tidak tahan, menjerit-jerit kecil dan memohon kepada Kak Niko, "Please, please", katanya. Kak Niko sepertinya tidak peduli dengan kondisi wanita yang sudah seperti cacing kepanasan. Dan akhirnya, mereka berdua bergumul saling mendekap erat, berlomba mencapai perpaduan. Selesai sudah. tapi saya tidak lantas beranjak dari posisi. Penasaran ingin tahu apa lagi yang akan diperbuat. Posisi mereka telentang dan membiarkan tubuhnya terhampar tanpa pakaian. Tapi Si wanita, masih menggelayut dan mencumbu. Kakak saya bersuara, "Bayar dulu", katanya.
"Jangan khawatir", jawab Si wanita. Dan Si wanita bangkit, berjalan gontai menuju kursi belajar Kak Niko, di mana di situ terletak tasnya. Dari dalam tas wanita itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan, saya taksir sekitar satu juta.

Lantas uang itu dilemparkan kepada Kak Niko.
"Bagaimana", kata wanita itu. "Thanks darling", jawab Kak Niko.
Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Mereka ngobrol tapi tangan masing-masing aktif menjamah daerah sensitif lawan. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ronde kedua jelas tinggal nerusin. Tidak perlu capai-capai pemanasan. Tapi saya melihat sebelum melakukan 'pertempuran' mereka berdua sepertinya mengkonsumsi obat. Sehingga permainan mereka terlihat lebih seru dan panas. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Namun mata ini tidak bisa terpejam.

Tetanggaku yang cantik

Kisah ini terjadi pada bulan February tahun 1999, dimana saat itu aku baru saja pindah rumah ke suatu kawasan pemukiman elite di daerah Jakarta Selatan. Namaku adalah Johnny (bukan nama asli) dan usiaku 23 tahun. Untuk ukuran pria, aku memiliki penampilan lumayan, tinggi 173 cm, berat 67 kg, dan aku juga suka olahraga renang dan lari pagi.

Tetangga sebelah rumahku memiliki seorang anak gadis yang sangat menarik perhatianku. Setelah tanya sana sini, aku mengetahui bahwa namanya adalah Desy (bukan nama asli). Aku perhatikan dia juga suka lari pagi, dan aku lihat tidak ada yang menemani, jadi aku bertekat ingin kenalan dengannya suatu saat.

Saat yang tepat itu datang pada suatu pagi, dimana aku sedang lari pagi, aku mendengar langkah-langkah di belakangku, maka segera saja aku menengok ke belakang, ehh.., ternyata dia. Pucuk di cinta ulam tiba, pikirku. Aku segera memperlambat lariku agar dia dapat berlari di sampingku. Setelah dia ada di sebelahku, aku menoleh dan melempar senyum ke arahnya, dan dia membalas. Wahh.., bukan main manis senyumnya itu. Jantungku langsung berdegup dengan keras.

Kemudian aku menyapanya, "Hai, suka lari pagi juga ya..?"
Dia menjawab, "Iya, dari dulu kok. Aku memang hobby lari pagi. Eh.. kamu anak sebelah itu yang baru saja pindahan kan..?"
"Betul.., namaku Johnny. Kamu Desy kan..?" jawabku.
"Loh.. kok kamu tahu namaku? Dari siapa..?" dia tampak agak heran.
"Yaa.. aku tanya-tanyalah. Sebenarnya aku sudah beberapa hari ini melihatmu, cuman baru kali ini saja kita bisa bertatap muka." ujarku sambil tersenyum.

Desy mengajak berhenti sambil beristirahat. Kebetulan saat itu kami melintasi sebuah telaga yang memang berada di dalam pemukiman itu. Kami berdua berhenti sebentar sambil mengatur nafas. Kami berdua mengobrol dengan santai, dan aku perhatikan dia sering mencuri pandang ke arahku.
"Kapan-kapan main dong ke rumah. Aku jarang keluar, soalnya temanku tidak banyak." kata Desy.
"Oh ya..? Masak sih, gadis secantik kamu temannya tidak banyak..?" ujarku keheranan.
"Iya, betuull.., kalau nggak percaya ya sudah..," jawabnya sambil cemberut.
Wahh.., si Desy ini kalau cemberut wajahnya makin cantik. Aku suka sekali melihat parasnya itu.

Desy itu dapat dikategorikan gadis cantik dan menawan. Dengan tinggi 170 cm dan berat 52 kg, tubuhnya sangat ideal, kulitnya putih mulus, rambutnya panjang sepunggung, hidungnya mancung dan juga.., dadanya indah sekali. Aku taksir ukurannya sekitar 34A.

"Ya baiklah, aku percaya kok sama kamu, jangan marah ya. Aku bukannya tidak percaya, cuman heran saja gadis secantik kamu tidak punya kawan banyak." kataku.
"Udah deh.., mau nggak mampir?" katanya tidak sabar.
"Baiklah.., tentu saja aku bersedia. Kapan..?" tanyaku.
"Sekarang juga boleh kalau kamu bisa..!" jawab dia.
"Oh.. ok lah. Aku mau saja, tapi.. orang tua kamu bagaimana nanti? Aku belum kenal mereka." kataku.
"Tenang saja, ayah-ibu sedang ke luar negeri. Mereka baru balik minggu depan." ujarnya sambil tersenyum.

Kemudian kami berdua melanjutkan lari pagi yang sempat tertunda tadi. Sekarang kami berlari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah dia, dia membuka pagar dan mempersilakan aku masuk. Aku masuk dan duduk di ruang tamu. Memang rumah ini tampak sepi.

"Pembantumu mana Des..?" tanyaku.
"Ohh.., dia lagi ke pasar. Kamu ikut aku saja, jangan duduk di sini, kamarku di atas kok..!" katanya.
Maka kami pun berjalan menuju ruang atas. Rumah ini sungguh luas. Memang aku tahu orang tua Desy ini adalah orang yang berada. Semua perlengkapannya luks.

Sesampainya di ruangannya, Desy membuka pintu kamar dan menyuruhku duduk di sofa. Setelah mengunci pintu, dia duduk di sebelahku dan tiba-tiba saja dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Dadaku berdegup kencang dan aku membelai rambutnya yang harum itu.
"Mas.., aku mau mandi dulu nih. Hmm.. mau ikutan nggak..?" dia bertanya.
Aku kaget juga, dalam hati aku berkata, wahh, berani juga cewek ini.
"Ya oke, siapa takut.." jawabku.
Dia menarik tanganku ke arah kamar mandi yang memang letaknya di dalam kamarnya itu.

Setelah kami berdua ada di kamar mandi, dia mulai membuka pakaiannya. Dadaku berdegup lebih kencang. Aku saat itu betul-betul seperti melihat Dewi yang baru turun dari langit. Sungguh indah tubuh Desy, benar-benar sempurna. Aku pun segera membuka seluruh pakaianku. Setelah kami berdua telanjang bulat, maka dia mengambil sabun dan mulai menyiramkan air ke badanku dan menyabuniku. Aku pun tidak mau kalah dan melakukan hal yang sama.

Setelah itu kami berdua berpelukan, aku menatap wajahnya dalam-dalam. Akhirnya perlahan kukecup keningnya, terus pipinya, dan akhirnya kukecup bibirnya yang telah merekah merah. Kami saling berpagutan dan lidah kami saling bertautan. Desy menciumku dengan ganas sekali, aku pun tidak mau kalah dan membalasnya. Aku mulai menciumi lehernya dan meninggalkan beberapa bekas cupangan di sana. Setelah itu aku mencium dadanya yang indah itu dengan puting yang telah tegak menantang, berwarna merah muda.
"Ssshh.. terus Mas..! Enak..!" Desy mendesis kenikmatan sambil mengusap-usap kepalaku.

Kemudian aku menjilat-jilat buah dadanya sambil mengulum putingnya bergantian kiri-kanan.
"Ohh.., yaahh.., terus Sayang..!" erang Desy.
Dari dada aku terus menjilati tubuhnya ke perutnya yang putih mulus dan rata itu. Terus ke bawah, ke arah pahanya, kakinya, dan aku mulai mengusap-usap kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang cukup rimbun. Kuciumi kemaluannya, dan tanganku membuka kemaluannya, dan aku dapat melihat lubang kemaluannya yang sudah basah dan berwarna merah muda. Aku mulai menjilati klitorisnya. Baunya sungguh harum dan aku sangat menyukainya.

"Auhh..! Sshh..! Terus Sayang..! Teruuss..!" Desy makin menjadi-jadi dan mulai menjambak rambutku.
Aku lama bermain di selangkangannya. Setelah sekitar 10 menit, dia menyuruhku duduk di atas closet dan dia mulai menjelajahi tubuhku dengan lidahnya. Dia menyapu mulai dari dadaku, turun ke perut dan tangannya mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah tegak dengan panjang 19 cm dan lebar 3 cm.

Perlahan dia menempelkan mulut seksinya di ujung kemaluanku, dan mulai menghisapnya.
"Ahh.., enak Sayang.. teruus..!" erangku kenikmatan.
Dia memasukkan seluruh batang kemaluanku sampai habis dan menaik-turunkan mulutnya itu. Aku sungguh merasa seperti berada di awang-awang.

Setelah kira-kira 5 menit berlalu, akhirnya aku menaikkan badannya di atas bak mandi yang memang ukurannya lebar. Desy mengerti dan membuka pahanya lebar-lebar. Aku mulai menggesekkan ujung kemaluanku di klitorisnya.
"Ohh..! Ayo John.. aku sudah tidak tahan. Masukkan punyamu, Sayang. Pelan-pelan ya..! Aku sudah lama tidak mengalami hal ini." desah Desy.
Maka aku pun menuruti kemauannya. Aku mulai memasukkan kemaluanku perlahan ke dalam vaginanya.

Mula-mula terasa agak seret, untung saja dibantu dengan cairan yang keluar dari vagina Desy, sehingga perlahan tapi pasti kemaluanku terbenam seluruhnya di dalam vaginanya yang hangat dan berdenyut-denyut itu.
"Oohh..! Enak Sayang..! Ayo goyang..!" kata Desy.
Aku memaju-mundurkan pinggangku berirama, sementara itu bibirku mengulum bibirnya, dan tanganku meremas-remas kedua buah dadanya yang makin mengeras dan putingnya makin meruncing. Kadang aku ganti mengulum putingnya, sehingga Desy mendesah tanpa henti keenakan. Batang kemaluanku serasa dipijit-pijit di dalam liang vaginanya. Sungguh nikmat permainan kami berdua saat itu.

Setelah beberapa saat, kusuruh dia membalikkan badan, kedua tangannya bertumpu pada pinggiran bak mandi, dan kami mengganti posisi dengan gaya doggy style. Aku masukkan kemaluanku dari belakang, sedangkan kaki Desy yang satunya dia naikkan sedikit menginjak pinggiran bak mandi. Bless.., kemaluanku sudah tertanam sepenuhnya, dan aku mulai menggoyangkan pinggulku dengan berirama. Desy juga tidak mau kalah dan menggoyangkan pinggulnya ke depan, belakang. Kali ini aku menciumi dan menjilati punggungnya yang putih mulus ditumbuhi bulu-bulu halus, dan kedua tanganku memainkan putingnya, dan sesekali menelusuri bagian perut dan pahanya. Kami melakukan gaya itu selama kurang lebih 15 menit.

"Ahh..! Nikmat Sayang..! Teruuss..! Aku tidak lama lagi mau keluar John.., ayoohh..!" erang Desy.
"Aku juga mau keluar Des.., keluarinnya di dalam apa di luar..?" tanyaku.
"Di dalam saja, Sayang..!" jawab Desy.
Beberapa menit kemudian, milik Desy bertambah kuat denyutannya, dan aku tahu dia mau mencapai orgasme. Maka aku pun mempercepat irama goyanganku, dan kukulum bibirnya sambil tangan kiriku memainkan puting susunya sebelah kiri.

"Ohh.., aku keluar Sayang..! Aauhh..!" tubuh Desy menegang, dan aku merasakan semburan cairan vagina Desy di kemaluanku.
Aku juga merasakan akan keluar, "Aku juga keluar Sayang..! Ohh..! Sret.. sret.. sret..!" spermaku dengan deras menyemprot ke liang senggama Desy.
Aku memeluk tubuhnya, dan kami berdua berpelukan. Kemaluanku kutancapkan sedalam-dalamnya di dalam liang senggamanya. Aku masih memeluk tubuhnya dengan erat sambil mengatur nafas.

"Jangan dicabut dulu ya Sayang, aku masih ingin merasakan milikmu di dalam milikku..!" ucap Desy.
"Oke..!" jawabku sambil tersenyum.
Kucium lagi bibirnya yang sungguh seksi itu, dan kupeluk dengan erat tubuhnya.
"Thanks ya Sayang, aku sungguh puas hari ini." kataku.
"Iya, aku juga puas Sayang. Aku mau begini terus sama kamu..!" timpal Desy.

Setelah itu kami berdua mengambil handuk dan mengeringkan badan serta berpakaian. Aku pamit dengan Desy dan pulang ke rumah. Besok kami berencana mau mengulangi lagi apa yang kami alami tadi.

Friday, February 8, 2008

Wiwik gadis kantoran

Namaku Antonie. Saat ini umurku 30 tahun. Sebenarnya aku sudah berumah tangga dengan seorang istri yang cantik dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang ganteng berumur 4 tahun. Tapi hasrat untuk berpetualang dan menikmati hubungan sex yang bervariasi membuatku ingin mencoba mencari pasangan selain istriku.

Aku tidak suka 'jajan'. Sebab selain takut akan resiko2 yang tidak diinginkan, aku juga tidak suka hubungan yang didasari 'jual beli', aku merasa tidak ada romantismenya. Hubungan seperti itu hanya seperti kalo kita ingin buang air kecil di toilet umum, setelah selesai tinggal mengeluarkan uang receh, lalu pergi. Belum lagi mengingat resiko penyakit menular seksual yang sekarang bermacam-macam jenisnya.

Aku mempunyai beberapa kisah menarik sehubungan dengan petualanganku untuk mencoba variasi seksual selain dengan istriku. Hampir keseluruhan affair itu aku lakukan dengan wanita-wanita yang kukenal baik melalui chatting di internet ataupun perkenalan tanpa sengaja di kendaraan umum ketika delam perjalananku menuju ke tempat kerja. Aku berharap dengan cerita yang kukirim ini, para pembaca akan memberi masukan, baik berupa saran maupun hal-hal lainnya.

Salah satu cerita yang akan kubagi disini adalah pengalaman pertamaku dengan seorang gadis muda, seorang wanita yang bekerja sebagai seorang karyawati disebuah perusahaan yang bergerak dalam penyediaan tempat pameran, seminar, dan lain-lain.

Petualangan yang akan kuceritakan ini terjadi tidak terlalu lama berselang. Sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan asing yang yang bergerak dibidang konsultasi teknis yang berlokasi di daerah Kelapa Gading, aku berangkat dan pulang dari kantor selalu menggunakan kendaraan umum. Aku biasanya menggunakan bis Patas AC. Aku selalu berusaha untuk memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan seorang wanita.

Ini adalah pertimbanganku agar perjalanan yang cukup jauh dari lokasi tempat tinggalku menjadi nyaman. Karena dengan duduk bersebelahan dengan wanita, pertama-tama aku merasa aman karena akan jauh dari dari rasa was-was terhadap kemungkinan menjadi korban copet. Kedua, aroma para wanita biasanya lebih enak, dan tentu saja akan merupakan penambahan rasa aman selama diperjalanan.
Pada suatu ketika, aku duduk bersebelahan dengan seorang dara cantik.

Aku biasanya membawa majalah untuk dibaca2 agar dapat mengusir kejenuhan perjalanan. Sebab dengan jarak perjalanan yang cukup jauh, tanpa kegiatan apa – apa akan membuat suasana menjadi jenuh dan membosankan. Ketika aku sedang asyik membaca, gadis cantik disebelah aku kuperhatikan juga ikut melirik bacaan yang sedang kubaca. Aku ketahui dari ekor mataku yang meliriknya memperhatikan bacaan yang kubawa. Kemudian aku mulai berbasa-basi kepadanya.

" Ke kantor yah Mbak? " tanyaku klise untuk memecahkan kekakuan.
" Iya.." jawab gadis itu singkat.
" Kantornya dimana? " tanyaku lagi untuk lebih memperpanjang pembicaraan.
"Di Kemayoran"

Lalu kamipun terlibat pembicaraan mengenai hal-hal yang ringan. Sebelum aku turun, aku tak lupa meminta nomor teleponnya. Dan meminta izin apakah aku bisa meneleponnya di kantor. Singkat cerita, kamipun selalu berhubungan melalui telepon. Selanjutnya kuketahui kalo dia bernama Wiwiek.

Gadis itu mempunyai rambut yang indah serta bibir yang sensual sekali. Tingginya sekitar 165 cm. Kami terkadang janjian untuk pulang bareng, karena rute bis yang kami lalui sama. Suatu saat aku mengajaknya untuk nonton di Atrium, Senen. Sebelum film diputar, kami makan dulu di salah satu fast food resto yang ada disitu. Dari situ dia lalu bercerita tentang masalah pribadinya.

Dia bercerita bahwa dia mempunya affair dengan atasannya yang sudah mempunyai istri di kantor. Aku bertanya kenapa tidak mencari pria yang lebih muda dan masih single. Dia menjawab bahwa dia sudah terlanjur sayang dengan pria ini. Aku bilang dia harus berusaha melepaskan diri dari pria berisitri ini. Aku punya cara, tawarku. Lalu kamipun memasuki teater 21, karena film sudah mulai diputar.

Selama film diputar, aku berusaha untuk menciumnya. Tapi dia masih berusaha bertahan. Akhirnya, aku bersabar aja. Lalu ketika film sudah usai, aku mengajaknya untuk mencari tempat ngobrol dan makan lagi, karena perutku belum kenyang dengan makanan 'fast food' tadi. Kami menuju ke Hotel Cempaka Sari, dimana disitu kuketahui juga memiliki restoran. Setelah memesan nasi makanan dan minuman. Aku menawari kepada Wiwiek untuk makan dikamar agar lebih nyaman dan bisa sambil ngobrol.

Lalu Entah apa yang terlintas di pikirannya, dia langsung mengiyakan saja ajakanku itu. Lalu aku menuju ke front office dan memesan kamar sambil mengatakan agar makanan yang kami pesan tadi langsung diantar kekamar. Sesampainya dikamar, aku menawarkan agar dia mandi dulu. Dia bilang nanti aja, setelah selesai makan. Setelah selesai makan, aku berbaring ditempat tidur. Aku menatap wajah gadis yang memang cantik ini. Lalu aku menarik tangannya untuk bersama berbaring di kasur. Lalu aku mulai memancingnya bercerita lebih jauh lagi tentang affair dirinya dengan atasannya di kantor.

Sambil bercerita aku dekatkan diriku semakin dekat dengan dengan tubuhnya. Kugenggan tangannya lalu kubelai rambutnya. Dia diam tidak bereaksi. Lalu tanganku berpindah membelai pipinya, Pelan2 tanganku kuturunkan ke bibirnya, dia juga diam tak bereaksi. Kulihat matanya terpejam. Lalu aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku mencium pipinya. Dia agak mengelak kali ini. Aku lalu membaringkan dirinya tepat di bawahku. Dia memejamkan matanya. Aku tau ini adalah sebuah tanda. Lalu kukecup kening, kedua pipinya. Kemudian aku beralih kebibirnya yang sensual itu. Dia hanya diam tidak membalas.
"Jangan ah.." ujarnya.

Aku tidak menghiraukan larangannya. Karena aku tau dia mulai menyukai serangan2ku. Aku membelai payudaranya sambil kukecup terus bibirnya. Perlahan, dia mulai mengerang dan membuka mulutnya.
"Ah..sshh..jangan.. aku gak bisa kayak gini..sshh" protesnya perlahan tanpa melakukan perlawanan yang berarti.

Aku lalu mulai membuka, kancing bajunya. Namun dia menggenggan tanganku bermaksud melarang aku untuk meneruskan perbuatanku. Aku harus agak sabar memang. Kuturunkan wajahku ke perutnya yang masih dibungkus kemeja warna coklat muda. Ku tatap belahan selangkangannya yang juga masih ditutupi celana yang senada dengan kemejanya. Lalu kecium belahan diantara kedua pahanya. Dia merintih lagi.

"Ahh.."
Aku terus mencium daerah yang paling sensitive tersebut selama beberapa saat. Dia mulai merenggangkan kakinya.
"Buka aja yah celananya, biar agak enakan?" ujarku untuk meminta izinnya.
"Jangan ah. Begini aja. Nanti keterusan"
"Gak apa apa kok. Gak bakalan sampai keterusan" jawabku menenangkan hatinya.
Lalu kutarik risleting celananya. Kemudian kuturunkan perlahan celananya. Dia menaikkan pinggulnya membantu .Terlihatlah CD nya yang berwarna cream yang terbuat dari bahan katun halus. Tepat ditengahnya terpampang gundukan indah yang kelihatan mulai basah. Lalu kucium gundukan itu.

"Ahh..sshh.." Wiwiek memegang kepalaku. Sambi terus mengecup dan menjilat gundukan vaginanya yang masih tertutupi CDnya, aku membuka celana jeans yang kupakai. Lalu kulempar jeans tersebut tak perduli ia terbang kemana. Lalu aku melepas juga kemejaku. Kulihat Wiwiek menatap diriku yang bugil dan agak kaget melihat penisku yang sudah menegang dan siap menyerang. Dia terlihat pasrah dan tak perduli lagi apa yang akan kulakukan selanjutnya.Lalu kuturunkan lagi wajahku ke wajahnya. Aku mengecup bibirnya.

Kali ini dia membalas. Bahkan dia melingkarkan tangannya ditubuhku. Aku meregangkan kedua belah kakinya. Kugesek2kan penisku di diatas vaginanya yang masih berbalut CD. Lalu aku memegang penisku. Aku udah gak tahan. Aku mencari2 sela diantara CD nya untuk bisa menyentuh vaginanya dengan kepala penisku.
"Jangan dimasukin..ahh..aku gak bisa.. sshh.." Kembali dia protes. Tapi aku tidak perduli. Aku tau dia mulai menyukai permainanku. Setelah kubuka sedikit celah CDnya yang tepat menutupi bibir vaginanya, aku menggosok2an kepala penisku di bibir vaginanya, tentu masih dengan bantuan tanganku. Terasa basah dan berlendir. Lalu aku mencari2 liang vagina yang merupakan target utamaku. Ketika terasa kepala penisku sudah tepat berada di depan liang vaginanya yang licin dan basah, aku mendorong pantatku perlahan.

"Ohh.. sshh.. jangann.. ahh.." Dia mengerang ketika kepala penisku mulai menerobos masuk. Aku lalu menekan lebih kuat lagi. Dan..blssesbb..masuklah dengan sukses penisku kedalam liang kenikmatan miliknya. Matanya yang indah itu sedikit terbelalak, lalu terpejam kembali

"Ahh..sshh..ohh.." Dia melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku.
Aku terus menyodok dan mendorongkan penisku kedalam vaginanya. Aku melakukannya cukup lama. Sekitar 25 menit. Lalu terlihat dia menegang dan merangkulku dengan kencang. Aku tau ini saatnya dia orgasme. Aku juga tidak mau kehilangan moment ini. Aku semakin mempercepat ritme kocokan penisku menghujam liang vaginanya.
"Ahh..jangan dikeluarin didalam ..hh..ohh..yahh.."Bisiknya.

Lalu terasa aliran klimaks mulai mengaliri diriku. Aku merasa penisku akan memuntahkan sperma. Aku mengocok semakin keras. Lalu aku memeluk dirinya erat2 berbarengan dengan tarikan kakinya yang semakin memeluk pinggangku dengan kuat. Aku tak berdaya lagi. Dan, crot..crot..crot..tumpahlah spermaku menghujani liang vagina sampai ke rahimnya.

"Ahh.." Dia mengerang keras.
Aku menatapnya lemas tanpa mengeluarkan penisku yang masih berada didalam vaginanya yang terasa masih memijat-mijat penisku. Terlihat dia tersenyum, tapi kulihat ada linangan air mata dipipinya.

" Kamu nakal. Tapi kamu sangat lama bercinta daripada pacarku" Katanya.
Sesudah itu tertidur, hingga jam dua pagi aku terbangun kembali. Aku menatap disekelilingku dan mencoba-mencoba menginngat apa yang telah terjadi. Kemudian kulihat seorang wanita terbaring disisiku. Wiwiek. Ah, ternyata dia begitu masih menggairahkan, pikirku dalam hati. Aku lalu berpikir untuk menyetubuhinya sekali lagi. Lalu kubuka selangkangannya yang telah dia tutupi dengan celana dalamnya. Kemudian kujilat celah diantara pahanya. Aku lalu mengeluarkan penisku. Kubuka CDnya pelan-pelan tanpa berusaha membangunkannya. Kuusap bukit berbulu yang indah tersebut tepat ditengah-tengah, terasa begitu basah. Lalu kulumuri batangku dengan lendir vaginanya yang beraroma sangat khas.

Aku sudah nggak tahan. Lalu perlahan kuarahkan kepala penisku yang mengkilat kedepan liang vaginanya yang kubuka dengan bantuan dua jari tanganku. Lalu kudorong perlahan. Keliatan dia menggeliat sebentar. Lalu terdiam kembali. Aku mendorong penisku lebih dalam, dan karena laing vaginanya sudah begitu basah, amblas semua batangku menyeruak daging empuk, hangat dan lembab tersebut. Aku lalu menyodok dan mengocok dengan perlahan. Terdengar dia mendesis, tapi seakan tidak mau membuka matanya. Crep.. crep.. crep.. jlebb.. jleb. Semakin cepat dan semakin cepat. Dia lalu merintih halus.
"Ahh.. sshh.. ss.."

Aku lalu melihat dia mengejang dan kakinya merapat. Aku tau dia mulai merasakan orgasmenya, ntah dia sadar atau tidak. Aku lalu juga merasa gumpalan-gumpalan naik mengarah ke kepala penisku siap untuk dimuntahkan. Lalu kutekan dalam-dalam penisku ketika kurasa semburan maniku akan meledak. Crott.. crott.. crott.. crott.. crott.
"Hekkhh.. ahh.."jeritnya. Aku tau dia merasakan semburan maniku yang panas telah membanjiri liang vagina hingga ke rahimnya. Sampai-sampai ketika kuacabut perlahan, terliat menetes masih dalam kekentalan keluar disela-sela liang vagina hingga menetes ke paha dan lubang anusnya. Ah, betapa nikmatnya, pikirku.

Lalu kami terus terlelap hingga keesokan pagi. Sejak saat itu. Wiwiek tidak mau bertemu lagi denganku. Dia hanya bilang, dia merasa bersalah telah mengkhianati pacarnya yang telah beristri tersebut. Dan ketika aku meneleponnya sekali-sekali sambil mengingatkan dirinya tentang peristiwa malam tersebut, dia hanya bilang agar jangan terulang kembali dan hanya menjadi rahasia kami berdua saja. Ah.. Wiwiek.

Yang pertama

Diam mungkin yang terbaik bagiku tapi apakah dengan diam aku bisa mengurangi beban penderitaan yang selama ini aku pendam di dasar lubuk sanubari. Namaku Ryo dan saat ini aku baru lulus dari sebuah universitas swasta di Jakarta. Bingung mencari pekerjaan yang kini makin langka terjadi.

Kejadian ini berdasarkan kisah nyata tanpa direka-reka ataupun di tambah tambah. Kejadian ini berawal dari masalah keuangan di keluargaku. Pada awalnya kami adalah keluarga yang berkecukupan sampai saat ayahku jatuh sakit. Kehidupan kamipun mulai berangsur-angsur memburuk. Satu persatu barang barang yang bisa laku di jual, kami jual tuk membiayai pengobatan ayahku serta untuk makan kami.

Teman-teman yang selama ini akrab bermain denganku kini meninggalkanku sendirian, baru kini aku sadar mereka hanya berteman denganku ketika aku senang dan ketika aku dalam kesusahan mereka meninggalkanku. Huh, itulah tabiat dari kebanyakan orang yang berada. Mendingan aku berteman dengan orang yang tak mampu. Mereka setia dalam suka maupun duka.

Aku berkenalan dengan seorang gadis. Manis dan imut wajahnya. Dia selalu curhat kepadaku tentang keluarganya yang sibuk dan sibuk melulu dengan bisnis sana dan bisnis sini. Akhirnya dia broken home. Di sela-sela kebingunganku mencari uang datang tawaran yang menggiurkan darinya. Aku bisa mendapatkan uang lumayan besar asalkan tidur bersamanya.

Aku bingung, aku tolak, aku sangat membutuhkan uang itu, dan kalau aku terima, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jujur saja aku belum pernah melakukan hal itu sekalipun. Huh, hal yang susah sampai saat ini. Akhirnya dengan berat hati aku terima tawaran itu meski batinku memberontak.

Aku bertemu dengannya di sebuah hotel di kawasan Jakarta selatan. Hotel yang ekslusif untuk aku yang belum pernah tidur di hotel yang sebesar ini. Tanpa basa-basi aku mengetuk pintu kamarnya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku di tengah sejuknya udara di dalam ruangan yang ber-AC itu. Grogi, takut dan rasa penasaran bercampur aduk di dalam benakku. Aku sebentar lagi akan menjadi laki-laki bayaran. Hal yang selama ini belum pernah terbersit sekalipun didalam pikiranku selama ini.

Kulihat seraut wajah manis itu menyambutku ramah dengan senyumnya yang membuat degup jantung para lelaki semakin kencang. Kulihat dia memakai jubah mandi dan wangi sabun mandi memancar dari aroma tubuhnya. Wuihh, semakin grogi aku jadinya. Tubuhku kini mulai terasa kaku tuk digerakkan. Takut, takut untuk selanjutnya. Gimana kalau aku ngga bisa memberikan kepuasan kepadanya maklum aku belum pernah melakukannya.

Aku duduk di bangku sofa yang ada di dalam kamar hotel itu. Memperhatikan gerak-gerik tubuhnya yang aduhai indah yang bisa membuat para lelaki bertekut lutut dihadapannya. Setelah mengobrol sekedar basa-basi akhirnya aku masuk kedalam kamar mandinya. Aku mandi untuk menghilangkan penat dan agar grogiku yang kian menjdai tidak terlihat olehnya.

Setelah mendi perasaan itu gak berkurang, aku pakai jubah yang ada disana. Biru muda warnanya, warna kesayanganku. Kumantapkan langkahku keluar dari kamar mandi tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika kuliat dirinya duduk didepan meja rias hanya memakai bra dan underwear saja. Putih mulus dan tak ada cacatnya disamping bodinya yang bagus. Heranku jadinya, banyak orang yang mau melakukannya tanpa imbalan uang tetapi kenapa memilihku dan mengiming-imingkan uang yang cukup banyak.

Kudekati dirinya, kukalungkan lenganku dipundaknya dan mencium lembut lehernya yang jenjang. Aroma wangi melati semerbak tercium oleh hidungku membuat detak jantungku merasa nyaman. Kumulai memciumi lehernya dengan lebih cepat, aku lakukan dengan instingku saja tanpa pengalaman. Kurasakan tangannya mulai mengelus-elus lembut tanganku yang melingkar.

Kubalikkan tubuhnya dan kucium lembut bibir yang tipis menantang itu. Merah muda dan semakin manis dengan adanya tahi lalat kecil di sudut bibirnya sebelah kiri. Bibirku kini mulai mencium lembut pipinya dan bergerak kearah kupingnya dan menurun kearah pundaknya.

Kurasakan tubuhnya bergetar dan tanganya mengelus-elus pundakku. Kini bibirku munurun kearah dadanya. Kulihat payudaranya kini mulai mengembang dan semakin memenuhi branya. Payudara yang cukup besar dengan kulit yang putih sehingga warna bra yang hitam semakin kontras terlihat. Tanpa sadar gairahku kini mulai bangkit. Segala pikiran dan kecemasanku menghilang perlahan dan tergantikan instuisi dan gairah yang semakin menigkat.

Kuangkat tubuhnya dan kubaringkan keranjang yang empuk itu. Bed cover yang merah muda semakin menarik dengan adanya tubuhnya di situ. Perlahan-lahan kubuka branya dan kulihat puting payudaranya mencuat dengan warnya yang merah muda agak ketuaan. Perlahan-lahan kuhisap dan kugigit-gigit kecil. Kudengar desah nafasnya yang berat dan lenguhan-lenguhan kecil terdengar dari mulutnya.

Tangannya mulai mengacak-acak rambutku. Dadanya mumbusung dan memberi tanda agar aku lebih agresif lagi. Ciumanku kini mulai turuh danturun kebawah sampai diperutnya. Gerakan tubuhnya mulai tak terkendali dan kakinya mulai membelit badanku.

Kuturunkan celana dalamnya dan kulihat rambut yang masih jarang-jarang terlihat di sana. Gumpalan daging berwarna merah ada celah pangkal pahanya. Ada aroma yang aneh ketika aku menciumnya. Perasaan jijik yang tadi timbul kini tidak lagi terganti rasa penasaran seperti apa rasanya bila aku menjilatinya.

Ketika kujilati, pantatnya naik dan bergoyang-goyang. Keluhan-keluhan yang keluar dari mulutnya kini berganti rintihan-rintihan. Kutanyakan apakan dia kesakitan, gelengan kuterima sebagai jawabannya. Wajah yang kuyu dengan pandangan mata yang nanar terlihat oleh mataku. Lidahku mulai lagi kegiatannya di daerah itu. Rintihan-rintihan kini terdengar lagi. Tak lama kemudian kurasakan ada sedikit cairan keluar dari rongga vaginanya. Dia mengejang sebentar kemudian tubuhny lemas. Aku baru tahu bahwa dia telah orgasme.Kubiarkan dia dengan sejuta sensasi yang dirasakannya dan kubiarkan dia tidur dalam pelukanku.

Kumulai berfikir kembali. Lebih baik aku tidak menerima uang yang ditawarkannya. Bila akuterima aku sama saja menjual harga diriku bila tidak, uang darimana aku bisa dapati. Ditengah-tengah lamunanku kurasakan tangannya mengelus-elus lembut dadaku. Aku hanya memakai jubah mandi dan celana dalam saja. Elusannya kini mulai turun kebawah sedikit demi sedikit. Membuat gairahku naik. Bibirnya kini mulai mencium bibirku dengan lembut. Sensasi yang indah.

Hangat, lembut dan manis terasa keika bibirnya yang lembut bertemu dengan bibirku. Tanganya kini mulai mengelus-elus lembut penisku dari luar celana dalamku. Aku tak mau kalah, tanganku kini mulai meneglus-elus celah vaginanya. Kutemukan ada daging yang kecil memanjang. Kupelintir-pelintir pelan, tubuhnya mengejang hebat. Tangannya masuk kedalam celana dalamku dan mengocok-ngocok lembut penisku.

Kubuka baju dan kuturunkan celana dalamku. Kulihat dirinya yang terbaring dengan damai di atas kasur itu. Setelah semuanya kubuka, kupeluk tubuhnya dan kuposisikan tubuhku diatas tubuhnya. Tangannya menuntun penisku kearah lobang vaginanya. Kugesek-gesekkan sebentar dan secara perlahan-lahan. Pinggulnya bergerak mengikuti kemana rah penisku bergerak.

Setelah cukup, perlahan-lahan aku tekan penisku kedalam vaginanya. Kepala penisku mulai masuk dan terasa hangat, lembut bagaikan sutra. Kutekan lagi danpenisku mulai masuk lebih dalam lagi. Kulihat dia menggigit bibir bawahnya dan ada kerutan di keningnya. Sakit apa nikmat yang dia rasakan, pikirku. Kutekan lebih keraslagi sampai aku merasa menembus sesuatu, seperti ada kertas tipis yang robek.

Kudengar jeritan pelan. Jangan-jangan dia.. rasa takutku kini mulai menghantui lagi. Kutnyakan apakah dia kesakitan apa masih mau dilanjutkan. Dia hanya mengangguk-angguk dan berbisik ditelingaku agar aku melanjutkannya. Kudiamkan penisku sejenak agar vaginanya dapat menyesuaikan keadaan. Penisku kurasakan hangat dan lembut. Ada gerakan meremas halus dan sedotan-sedotan di dalam vaginanya.

Kugerakkan penisku maju mundur. Lenguhan kudengar semakin menjadi-jadi. Seret dan peret kurasakan penisku bergerak keluar masuk di dalam vaginanya. Lima belas kemudian kurasakan akan ejakulasi. Kutanyakan apakah mau dikeluarkan di dalam atau diluar. Didalam saja jawabnya. Kupacu gerakanku semakin cepat. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Vaginanya mencengkram penisku dan mengurut-urutnya. Pertahananku jebol dan kukeluarkan air maniku di dalam lobang vaginanya. Kudiamkan penisku di dalam vaginanya sampai terlepas sendiri.

Kuperhatikan ada noda-noda darah bercampur air maniku. Takut dan sesal kini terlintas di dalam benakku. Ternyata dia masih seorang perawan dan aku telah merebut kegadisannya. Kubiarkan dirinya tertidur dengan damai dan secara perlahan-lahan kurapikan pakianku dan menyelinap keluar dari kamar hotelnya dengan pikiran kalut aku kembali ke rumah dan merenungi apa yang telah terjadi.

Lebih baik aku tidak menerima uangnya dan handphoneku ku jual untuk biaya berobat ayahku. aku tahu ini yang terbaik tuk kita berdua. apakah aku salah.. Jika aku salah maka apunilah aku.. Untuknya aku minta maaf, bukannya aku tak mau uangmu tapi aku terpaksa tuk menepisnya. Aku tak mau memanfaatkanmu. Sekali lagi maafkan aku. Suatu saat aku akan menghubungimu bila aku sudah siap.

Para pembaca, aku minta saran apa yang harus aku perbuat dan bagaimana aku menghadapinya. apakah aku salah dalam bertindak tetapi apakah aku hanya tak ingin dia terluka oleh sikap dan perbuatanku yang tak bertanggung jawab ini. Silahkan kirimkan kritikan dan sarannya. Sebelumnya aku ucapkan banyak terima kasih dan siapa yang mau berkenalan denganku silahkan hubungi aku saja.

Sebenarnya aku ingin merasakan kenikmatan lagi tetapi aku tak ingin terikat, adakah seseorang yang mau mengajariku setiap teknik bercinta dalam mengejar kebahagiaan sehingga aku bisa membahagiakan pasanganku. Aku ingin banyak kenangan yang tak mungkin terlupa sampai saat aku tua nanti.

Wednesday, February 6, 2008

Yang mana pacarku

Namaku Rio, umurku 24 tahun dan aku memiliki face yang manis dan menarik sehingga aku mudah untuk mendapatkan cewek yang aku sukai. Aku tinggal di kota Malang.

Cerita ini berawal ketika aku mempunyai pacar yang ternyata dia punya saudara kembar yang identik hampir segalanya, rambutnya, bodynya, suaranya, pokoknya semua sama jadi aku sulit untuk membedakan yang mana pacarku. Ceritaku ini benar-benar nyata.

Pacarku itu namanya Dina dan dia punya saudara kembar yang bernama Dini. Aku dan Dina berkenalan di telepon dan mengobrol cukup lama, lalu aku mengajak Dina bertemu di rumahnya.

Jadi sorenya aku langsung berangkat ke rumah Dina. Ternyata Dina itu adalah cewek yang menarik dan mempunyai wajah yang nafsuin, alis matanya begitu indah menurutku dan bodynya sudah benar-benar aduhai n seksi. Dinapun tampaknya juga menyukaiku. Lalu dia mempersilakan aku masuk dan kami berbincang-bincang dirumahnya. Dalam waktu singkat kami berdua mulai akrab karena punya banyak kecocokan. Waktu itu kami berdua duduk bersebelahan di sofa panjang. Aku sering mencuri pandang wajahnya yang cantik, dia juga begitu.

Setelah capek ngobrol dan bercanda kami berdua saling terdiam cuma saling berpandangan dan tersenyum.

"Kamu cantik.." kataku memecah kebisuan.
"Kamu juga cakep, yo.." jawabnya.

Aku benar-benar ingin menciumnya, aku sudah tak tahan ingin merasakan bibirnya yang seksi itu. Mata kami tetap saling bertatapan.

"Aku suka mata kamu, bibir kamu.." pujiku sambil mataku memandang ke arah bibirnya yang mungil.

Dina hanya tersenyum mendengar kataku itu. Lalu aku mulai mendekatkan wajahku perlahan dan Dina juga melakukan hal yang sama. Kami mulai berciuman, saling menikmati dan merasakan. Mulanya ciuman kami begitu hangat tapi lama-lama terasa ada nafsu dalam ciuman kami. Aku mulai menggigit bibirnya yang mungil dan lidah kami beradu, lidahku mulai menari dalam bibirnya lalu aku mulai merasa lidahku seakan tertarik masuk ke dalam mulutnya, kami berdua mulai tak bisa mengendalikan diri, desah nafasnya makin membara, matanya terpejam dan wajahnya yang cantik itu mulai merona merah, kedua tangannya menjambak rambutku seakan menahan nafsu yang ingin meledak.

Sambil berciuman kami mulai berganti posisi, Dina duduk di pangkuanku dan tanganku mulai nakal meraba dan meremas-remas buah dadanya yang montok. Kurasakan kedua pahanya menjepit erat pinggangku saat bibirku memciumi lehernya dan lidahku menjilati dan menghisap daun telinganya. Sementara itu tanganku mulai turun meremas remas pantatnya yang empuk.

Desahannya terdengar makin keras, satu tangannya mulai berani memegang kontolku yang mengeras diluar celanaku. Bosan menciumi lehernya, tanganku membuka bajunya dan melepas BH-nya, lalu kuhisap buah dadanya dan kusedot masuk kedalam mulutku, sementara itu lidahku kuputar-kuputar di puting susunya.

"Uhh" desahnya menikmati rangsanganku.

Tangannya mulai berani membuka resleting celanaku dan mengeluarkan kontolku dari dalam celanaku, tangannya yang kecil itu mulai mengocok kontolku yang besar pelan-pelan, akupun juga memerosotkan celana dan CD-nya. Lalu tangan kiriku meremas-remas pantatnya dan tangan kananku meraba-raba vaginanya, terasa bulunya begitu halus dan jemariku terasa basah terkena lendir dari vaginanya, jari telunjukku mulai kumasukkan ke dalam vaginanya yang basah dan licin itu dan kutarik maju mundur perlahan, sementara itu mulutku terus merangsang puting susunya yang kecil.

"Ahh.. Shh" desahnya tak tertahankan, nafasnya tersengal-sengal menderu.

Kemudian Dina mendekatkan badannya semakin merapat ketubuhku sambil tangannya menggesek-gesekkan kontolku diluar vaginanya, kontolku terasa geli saat kena bulu jembutnya yang halus itu. Aku sudah tak tahan ingin memasukkan kontolku ke vaginanya, tapi aku cuma diam saja mengikuti alur permainannya.

"Yo, aku pengen ML sama kamu nih.." ajaknya sambil tersenyum malu-malu.
"Sekarang di rumah kamu ada siapa? Ntar kalau ada yang melihat gimana..?" jawabku.
"Tenang aja, orangtuaku sedang keluar kota, adikku sekarang lagi tidur, jadi aman kok..", jawabnya sedikit memaksa sambil tangannya terus meremas kontolku.

Tanpa menuggu jawabanku, Dina mulai berdiri dengan lututnya sambil tangannya menggesek-gesekkan kontolku di bibir vaginanya. Wajahnya tampak begitu seksi saat itu. Helm kontolku mulai terasa basah terkena lendirnya. Kemudian pantatnya mulai turun pelan-pelan, terasa helm kontolku masuk didalam vaginanya. Lalu Dina mulai bergerak naik turun perlahan, rasanya kontolku sedikit sulit masuk seluruhnya meskipun vaginanya sudah sangat licin karena kontolku terlalu besar. Tapi Dina terus memaksakan, pantatnya turun terus, akhirnya kontolku mulai masuk seluruhnya kedalam, rasanya kontolku seperti dipijat-pijat dan di tarik oleh vaginanya. Kami berdua mendesah pelan menahan kenikmatan itu.

"Achh.. Ohh" suaranya semakin membangkitkan birahiku.

Pantatnya mulai bergerak lagi naik turun perlahan kemudian bergerak semakin cepat, tanganku meremas pantatnya sendiri sambil membantunya bergerak agar lebih cepat. Pentil susunya terus kulumat dan kuhisap masuk di mulutku. Dina terus bergerak naik turun, terasa kepalaku sakit karena dia terlalu kuat menjambak rambutku dan menarik kepalaku ke buah dadanya. Aku sudah tak tahan menahan orgasmeku yang hampir ke puncak, lalu terasa tubuh Dina bergetar dan pahanya terasa menjepit erat pinggangku, gerakannya sedikit tertahan tapi dia terus bergerak naik turun, matanya terpejam sambil bibirnya makin mendesah keras.

Lalu terasa kontolku makin hangat dan basah di dalam vaginanya. Rupanya Dina telah orgasme, gerakannya mulai terasa amat perlahan, tapi tanganku terus mengangkat pantat Dina naik turun karena aku juga hampir orgasme, akhirnya kontolku memuncratkan spermaku ke dalam vaginanya, Dina ikut bergerak lagi membantuku mencapai puncak kenikmatan. Rasanya pahaku basah kuyup kena cairan orgasme kami berdua. Kemudian Dina berdiri lalu jongkok di depanku, tangannya mengocok kontolku, lidahnya sekali-kali menjilati sisa spermaku, benar benar suatu kenikmatan yang tak mampu terucap dengan kata-kata.

Setelah selesai dan kontolku mulai melemas, Dina duduk di sebelahku, kepalanya bersandar di bahuku sementara tanganku membelai rambutnya. Kami berdua berusaha mengatur nafas setelah kecapekan bercinta. Lalu kami memakai pakaian kami kembali. Kami berdua tak tahu kalau ada yang mengintip kami sedang bercinta tadi di sofa.

"Yo, jangan anggap Dina cewek nakal ya..? Pintanya manja padaku.
"Enggak kok, aku gak pernah berpikiran begitu sama kamu.." jawabku menenangkan hatinya, lalu Dina tersenyum manis sambil memelukku lebih erat.
"Yo.. Udah jam sepuluh nih, kamu pulang dulu ya, tapi janji besok kamu harus ke sini pagi-pagi ngantar Dina ke kampus..!" pintanya padaku, aku cuma mengangguk.

Akhirnya aku pulang ke rumah dan langsung tidur karena capek.

*****

Besoknya..

"Waduh.. Gimana nih, udah jam dua belas siang..!" umpatku karena bangun kesiangan, lalu aku bergegas mandi dan langsung berangkat ke rumah Dina, berharap dia belum berangkat ke kampus.

Sesampainya di rumah Dina aku langsung masuk karena aku tahu orangtuanya belum pulang dari luar kota. Tak terlalu sulit menemukannya karena di rumahnya cuma ada 3 kamar. Tampak di depanku Dina sedang tiduran di ranjang. Dina cuma tersenyum melihatku.

"Lho kamu sudah pulang kuliah ya? Sorry ya tadi pagi gak ngantar kamu.. Abis kecapekan kemarin bercinta ama kamu sih.." alasanku supaya dia gak marah.
"Gak apa-apa kok Yang.. Lagian Dina juga gak ke kampus karena kecapekan kemarin.." jawabnya santai.
"Sini, rebahan di samping Dina, kangen nih.." ajaknya manja.

Aku langsung tiduran di sampingnya sambil memeluknya.

"Yo.. Emm.. Bercinta lagi yuk?" ajaknya mengagetkanku, aku langsung saja mengiyakan kegirangan.
"Tapi sekarang pemanasannya yang lama ya..?" pintanya manja.

Aku cuma tersenyum dan langsung mengambil posisi di atas tubuhnya. Kemudian kami langsung berciuman sangat hot dan bernafsu, tapi terasa ada yang beda dan aneh, karena tindakannya berbeda dengan yang kemarin malam. Tapi aku tak peduli, pikirku yang penting bercinta. Dina kali ini terasa kasar waktu berciuman, lidahku digigit cukup keras sementara tangannya mencakar punggungku, aku tak peduli, pikirku Dina sekarang amat bernafsu ML.

"Slow aja Dina..", ujarku, tapi dia seakan tak peduli, kemudian tangannya mendorong kepalaku ke bawah, tepat di atas gundukan vaginanya.

Tampak Dina sangat nafsu menggesek-gesekkan kepalaku di vaginanya yang amat basah, terasa hidung dan bibirku basah kena cairannya, lidahku langsung kumainkan menjilati klitorisnya sembari tanganku meremas-remas puting susunya.

"Ahh.. Ahh, terus yo, masukkan lidahmu ke dalam dong.." desahnya manja, langsung saja lidahku kumasukkan dan kuputar-putar di dalam vaginanya, terasa cairannya masuk ke dalam mulutku dan kutelan.
"Ohh.. Iya gitu Yang.." rintihnya tanpa malu-malu.

Tangannya makin mendorong kepalaku, membenamkan wajahku ke vaginanya, aku terus menjilati vaginanya makin cepat, kemudian terasa pahanya menjepit keras kepalaku, tubuhnya bergetar keras, sembari tangannya menjambak rambutku. Kemudian terasa mulutku kena semprot cairannya banyak sekali, bau khas wanita orgasme, tubuhnya makin mengejang sampai orgasmenya berakhir.

Setelah itu Dina menarik tubuhku dan menjilati cairannya sendiri di mulutku, setelah puas Dina langsung mendorong tobuhku, aku merebahkan diri di ranjang, sementara itu Dina bergerak liar melucuti pakaianku, lalu meremas dan mengocok kontolku dengan cepat, wajahnya tampak liar bernafsu saat itu. Lalu mulutnya mengulum kontolku, memasukkan batang kontolku ke dalam tenggorokannya, kemudian menghisap, menyedot kontolku dengan sangat nafsu, aku cuma terpejam menikmati rangsangan yang luar biasa nikmat itu.

Lalu kurebahkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang dan langsung menindihnya. Kontolku langsung kusodok-sodok dengan cepat ke dalam vaginanya.

"Ahh.. Achh.. Achh" rintihnya menahan gempuran kontolku.

Langsung saja kugoyang dengan cepat pantatku maju mundur. Dina semakin merintih gak karuan, semakin menambah nafsuku. Setelah puas menindihnya, kubalikkan badannya membelakangiku lalu kusodok lagi dari belakang dengan cepat, sementara tanganku meremas-remas buah dadanya.

"Yo.. Masukin di lubang pantat Dina dong..!" ajaknya mengagetkanku.
"Gak apa-apa nih..?" jawabku.
"He.. Eh, Dina suka kok.." kemudian kucopot kontolku, lalu lubang pantatnya kubasahi dengan ludahku, Dina cuma mendesah keenakan campur geli.

Setelah itu kugesekkan kontolku di pantatnya dan kusodok pelan-pelan, rasanya sulit sekali masuk karena lubang pantatnya terlalu kecil, tapi terus saja kusodok sampai akhirnya masuk setengah. Kemudian kugoyang maju mundur agar lebih masuk lagi, sampai akhirnya batang kontolku terbenam seluruhnya di dalam pantatnya. Terasa sangat nikmat sekali karena lubangnya sangat sempit, kontolku berdenyut-denyut merasakan pijatannya sampai akhirnya terasa spermaku mengalir di dalam urat kontolku. Lalu langsung menyemprot di dalam lubang pantatnya.

"Ahh.. Ahh..!" desahku menikmati orgasme. Sampai akhirnya aku merebahkan diri sambil memeluknya karena kecapekan.
"Yo.. Gila kamu, ngapain kamu ama adikku..!!" terdengar suara yang sangat mengagetkanku, mataku langsung kubuka dan aku bingung setengah mati melihat Dina ada 2.

Dengan perasaan bingung kutoleh bergantian wajah mereka satu persatu, ya ampun mirip sekali keduanya, cuma yang membedakan satu wajahnya terlihat marah dan satunya lagi terlihat ketakutan.

"Lho.. Dinaku yang mana..?", kataku kebingungan.

*****

Akhirnya aku tahu kalau aku telah bercinta dengan adiknya dan Dina memaafkanku karena sebelumnya gak mengatakan padaku kalau dia itu kembar. Kami berdua tetap pacaran walaupun Dina tak tahu kalau aku juga masih sering bercinta dengan adiknya. Jadi yang membuatku bisa membedakan Dina dengan adiknya adalah hanya tattoo kecil bertuliskan namaku di punggungnya..